Bagi Ade Fahri Maulana (kelas 6 SD) dan Assyfa (kelas 5 SD), berangkat sekolah bukan sekadar perjalanan biasa, melainkan sebuah aksi uji nyali. Dua pelajar SDN 021 Marangkayu, Kutai Kartanegara (Kukar), Kalimantan Timur ini harus menggelantung di atas seutas tali seling demi menyeberangi Sungai Santan—habitat alami bagi kawanan buaya muara yang ganas.
Aksi menegangkan kedua bocah ini viral di media sosial setelah diunggah oleh akun Facebook ahmadrianto (13/7/2026). Dalam video tersebut, Ade dan Assyfa tampak tegap berdiri di dalam kotak kayu sederhana, lalu secara manual menarik katrol dengan tangan kosong agar kereta mini itu bergerak membelah sungai di Desa Santan Ulu.
“Diikuti Buaya Sebesar Pintu, Kami Hanya Berteriak”
Ancaman terjatuh ke sungai berarus deras bukanlah satu-satunya mimpi buruk. Bahaya nyata justru datang dari bawah air, terutama saat air sungai sedang pasang dan satwa predator mulai mendekat.
“Iya, pernah diikuti buaya sebesar pintu saat air pasang. Palingan kami teriak saja, tidak menangis,” ucap Ade dengan polos dalam video viral tersebut.
Ketakutan terdalam justru dirasakan sang ayah, Aceng Zaenudin. Jika tidak sedang berkebun, ia selalu setia mendampingi anak-anaknya menyeberang. Aceng mengisahkan momen mengerikan saat empat anaknya—termasuk Fakhrul Kholiq (kelas 4 SD) dan Tya Haerumah (kelas XI SMA)—pernah terjebak di tengah sungai selebar 60 meter karena kereta gantung mendadak macet.
“Keretanya macet, mereka teriak-teriak. Air sudah tinggi tinggal sejengkal dari lantai kereta. Butuh enam orang dewasa untuk menarik keretanya saat itu,” kenang Aceng dengan raut cemas, dilansir dari Kompas com, Kamis (16/7/2026).
Mengapa Warga Memilih Jalur Maut Ini?
Jawabannya adalah akses. Kereta gantung ini dibangun secara swadaya oleh warga pada tahun 2020 dengan modal patungan sebesar Rp 12 juta untuk membeli tali seling sepanjang 140 meter.
Warga di RT 09 terpaksa bertaruh nyawa karena opsi jalur darat yang ada sangat tidak memanusiakan. Warga harus memutar sejauh 8 kilometer melintasi jalan tanah merah milik perusahaan yang kerap berubah menjadi kubangan lumpur pekat saat hujan. Kereta Gantung memangkas jarak ke jalan utama menjadi hanya 350 meter.
Di sepanjang Sungai Santan sebenarnya ada empat kereta gantung serupa, namun tiga di antaranya murni untuk mengangkut hasil kebun. Hanya satu titik ini yang digunakan bersama oleh 8 Kepala Keluarga (KK) untuk mobilitas sehari-hari dan akses anak-anak pergi menuntut ilmu.
Janji Jembatan yang Kandas di “Hutan Lindung”
Kondisi ekstrem ini sebenarnya bukan rahasia lagi. Bupati Kukar bahkan sempat meninjau langsung lokasi ini beberapa tahun lalu dan menjanjikan pembangunan jembatan. Namun, janji tinggal janji.
Abu Nawas, warga setempat, membeberkan bahwa alasan pemerintah daerah urung mengeksekusi proyek infrastruktur tersebut adalah karena pemukiman warga terganjal status kawasan hutan lindung.
“Informasinya karena masuk kawasan (hutan lindung), makanya tidak ada kelanjutan. Biar bagaimanapun mereka adalah warga Indonesia, sudah semestinya ada solusi dari pemerintah,” sesal Abu Nawas.
Kini, warga tak lagi muluk-muluk meminta fasilitas mewah. Aceng menegaskan, jembatan kayu sederhana yang aman untuk pejalan kaki sudah lebih dari cukup. Mereka hanya ingin anak-anak mereka bisa berangkat sekolah tanpa harus bertaruh nyawa melawan buaya atau terpaksa bolos setiap kali hujan deras mengguyur desa mereka.