JAKARTA — Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat hingga Dasarian I Juli 2026, sebanyak 432 Zona Musim (ZOM) atau sekitar 60,5 persen wilayah Indonesia telah resmi memasuki musim kemarau. Kondisi tersebut menunjukkan peningkatan signifikan dibandingkan periode sebelumnya, sekaligus menjadi sinyal menguatnya dominasi atmosfer kering di berbagai kawasan Tanah Air.
Data BMKG menunjukkan jumlah wilayah yang memasuki musim kemarau bertambah sekitar 11,6 persen dibandingkan dasarian sebelumnya. Perkembangan ini dipicu semakin meluasnya massa udara kering yang bergerak dari selatan Indonesia sehingga menghambat pembentukan awan hujan, terutama di wilayah selatan.
Selain itu, indikator Hari Tanpa Hujan (HTH) juga memperlihatkan tren kekeringan yang semakin nyata. BMKG mencatat 596 titik pengamatan atau sekitar 12,2 persen berada pada kategori hari tanpa hujan panjang selama 21–30 hari. Sementara itu, 331 titik pengamatan atau 6,8 persen lainnya telah mengalami hari tanpa hujan sangat panjang, yakni mencapai 31–60 hari.
Dalam keterangannya, BMKG menjelaskan hasil pemantauan citra satelit memperlihatkan sebaran udara kering terus meluas dari wilayah selatan Indonesia.
“Berdasarkan pantauan citra satelit terkini, sebaran massa udara kering dari selatan Indonesia tampak semakin meluas, meliputi wilayah Jawa, Nusa Tenggara hingga Kalimantan bagian selatan. Kondisi ini mempertegas penurunan potensi pembentukan awan hujan, khususnya di Indonesia bagian selatan,” tulis BMKG.
El Niño Masih Menguat, Kemarau Diperkirakan Berlanjut
BMKG mengungkapkan salah satu faktor utama yang memperkuat musim kemarau tahun ini adalah fenomena El Niño yang masih bertahan di Samudra Pasifik.
Berdasarkan hasil pemantauan, indeks Niño 3.4 tercatat berada pada angka +1,25, sementara Southern Oscillation Index (SOI) mencapai -26,2. Kondisi tersebut menunjukkan pengaruh El Niño masih cukup kuat dalam menekan pembentukan awan hujan di sebagian besar wilayah Indonesia.
Meski demikian, BMKG menegaskan kondisi kering bukan berarti seluruh wilayah akan sepenuhnya bebas dari hujan.
Aktivitas dinamika atmosfer regional masih berlangsung dan sesekali mampu memicu pertumbuhan awan hujan, terutama akibat pengaruh Gelombang Ekuatorial Rossby. Fenomena tersebut telah memicu hujan dengan intensitas sedang hingga lebat di sejumlah daerah, termasuk Papua yang mencatat curah hujan mencapai 99 milimeter per hari dan Papua Tengah sebesar 76 milimeter per hari pada 9 Juli 2026.
Mayoritas Wilayah Diprediksi Minim Hujan Pekan Depan
BMKG memprakirakan kondisi cuaca selama sepekan ke depan masih didominasi curah hujan rendah.
Pada Dasarian II Juli 2026, sekitar 91,45 persen wilayah Indonesia diprediksi mengalami curah hujan kategori rendah. Sementara 8,52 persen wilayah diperkirakan berada pada kategori hujan menengah dan hanya 0,03 persen wilayah yang berpotensi mengalami curah hujan tinggi.
“Dalam sepekan ke depan, kondisi cuaca di Indonesia secara umum diprakirakan masih didominasi oleh curah hujan kategori rendah,” jelas BMKG.
Curah hujan rendah atau kurang dari 50 milimeter per dasarian diperkirakan meliputi sebagian besar Pulau Sumatra, Jawa, Bali, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, Kalimantan, Sulawesi, Maluku, Maluku Utara, hingga sebagian wilayah Papua.
Kondisi tersebut menunjukkan peluang hujan di sebagian besar wilayah Indonesia masih relatif kecil sepanjang pertengahan Juli.
Gelombang Atmosfer Masih Berpotensi Memicu Hujan
Di tengah dominasi musim kemarau, BMKG mengingatkan sejumlah gangguan atmosfer tetap dapat memunculkan hujan lokal dengan intensitas sedang hingga lebat.
Salah satunya berasal dari Gelombang Kelvin yang diperkirakan aktif melintasi Aceh, Sumatra Utara, Sumatra Barat, Riau, Sulawesi bagian utara, hingga Maluku Utara.
Sementara itu, Gelombang Ekuatorial Rossby diprakirakan bergerak aktif di kawasan Nusa Tenggara Timur, Nusa Tenggara Barat, Bali, Pulau Jawa, wilayah tengah hingga selatan Sumatra, serta Sulawesi bagian tengah dan selatan.
“Gelombang Ekuatorial Rossby yang berpropagasi ke arah barat diprakirakan aktif di sekitar Nusa Tenggara Timur, Nusa Tenggara Barat, Bali, Pulau Jawa, Sumatra bagian tengah hingga selatan, serta Sulawesi bagian tengah dan selatan,” papar BMKG.
Aktivitas kedua gelombang atmosfer tersebut dapat meningkatkan peluang terbentuknya awan konvektif yang memicu hujan meski secara umum Indonesia sedang berada dalam fase kemarau.
Siklon Tropis Haishen Pengaruhi Cuaca dan Gelombang Laut
BMKG juga menyoroti perkembangan Bibit Siklon Tropis 97W yang kini telah berkembang menjadi Siklon Tropis Haishen.
Meskipun pusat siklon berada di luar wilayah Indonesia, sistem tersebut diperkirakan memberikan dampak tidak langsung terhadap kondisi cuaca nasional.
Pengaruh yang paling terasa berupa peluang hujan dengan intensitas sedang di sebagian wilayah Sulawesi Utara dan Maluku Utara, serta peningkatan tinggi gelombang laut kategori sedang antara 1,25 hingga 2,5 meter di Perairan Kepulauan Sangihe-Talaud, Laut Maluku bagian utara, serta Samudra Pasifik di utara Maluku hingga Papua Barat Daya.
BMKG menjelaskan keberadaan Siklon Tropis Haishen juga memicu terbentuknya daerah konvergensi dan konfluensi di Laut Sulawesi, perairan utara Papua, serta di sekitar pusat sirkulasinya.
“Siklon Tropis Haishen juga membentuk daerah konvergensi dan konfluensi di Laut Sulawesi, perairan utara Papua, serta di sekitar pusat sirkulasinya, sehingga dapat meningkatkan potensi pertumbuhan awan hujan di sepanjang daerah konvergensi dan konfluensi tersebut, terutama di wilayah yang relatif dekat dengan sistem,” tutup BMKG.
BMKG mengimbau masyarakat tetap mewaspadai perubahan cuaca yang dapat terjadi secara cepat di sejumlah wilayah, terutama daerah yang masih dipengaruhi aktivitas gelombang atmosfer maupun dampak tidak langsung dari Siklon Tropis Haishen. Di sisi lain, masyarakat di wilayah yang telah memasuki musim kemarau juga diminta meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi kekeringan, kebakaran hutan dan lahan, serta berkurangnya ketersediaan air bersih akibat semakin panjangnya periode tanpa hujan.