JAKARTA — Bubur ayam menjadi salah satu hidangan sarapan yang paling banyak digemari masyarakat Indonesia. Sajian berkuah hangat dengan taburan ayam suwir, cakwe, dan berbagai kondimen ini selalu berhasil menghadirkan kenikmatan tersendiri di setiap suapannya. Keberadaannya yang mudah ditemukan di pinggir jalan hingga restoran berbintang menjadikan makanan ini sebagai kuliner lintas kelas yang dinikmati semua lapisan masyarakat.
Di balik kelezatan dan kepopulerannya itu, terdapat sejumlah fakta unik yang menarik untuk diketahui lebih dalam. Berikut empat fakta tersebut yang dihimpun dari berbagai sumber:
1. Berasal dari Tiongkok, Kini Jadi Lidah Lokal
Berdasarkan sejumlah sumber yang dihimpun RRI, bubur ayam diperkirakan masuk ke Nusantara melalui jalur perdagangan yang dibawa oleh para perantau Tionghoa pada abad ke-16. Pada masa awal kehadirannya, hidangan ini hanya dikonsumsi di lingkungan masyarakat Tionghoa. Namun, seiring berjalannya waktu, makanan ini mulai dikenal luas oleh masyarakat pribumi hingga akhirnya diterima dan digemari berbagai kalangan di Indonesia sampai saat ini.
2. Polemik Diaduk atau Tidak
Salah satu hal yang membuat bubur ayam terus menjadi perbincangan di kalangan pecinta kuliner adalah cara mengonsumsinya. Terdapat dua kubu yang berseberangan: mereka yang terbiasa mencampurkan semua kondimen ke dalam bubur, dan mereka yang berpendapat bahwa bubur ayam sebaiknya tidak diaduk. Perbedaan pandangan ini kerap memicu adu argumen sengit, bahkan sampai dikaitkan dengan tingkat kecerdasan seseorang.
3. Kaya Variasi dari Berbagai Daerah
Setiap daerah di Indonesia memiliki ciri khas bubur ayamnya sendiri. Mulai dari bubur ayam khas Jakarta hingga Bandung. Beberapa daerah bahkan menambahkan sentuhan unik pada sajiannya. Bubur Ayam Sukabumi, misalnya, biasa disajikan dengan telur ayam kampung mentah yang ditimbun dalam bubur panas hingga matang setengah. Sementara itu, Bubur Ayam Tegal hadir dengan siraman kuah berbumbu kuning khas masakan daerah Tegal.
4. Waspadai Risiko bagi Kesehatan Jantung dan Kolesterol
Dilansir dari Halodoc, meski menggugah selera, beberapa pelengkap bubur ayam perlu dikonsumsi dengan bijak. Kerupuk yang kerap menjadi teman makan bubur ternyata mengandung lemak jenuh dari proses penggorengan. Konsumsi lemak jenuh secara berlebihan berpotensi berdampak negatif pada kesehatan jantung.
Selain itu, sate usus dan hati ayam yang sering menjadi lauk pendamping memang kaya akan protein, vitamin, dan mineral. Namun, konsumsi jeroan secara berlebihan dapat memicu peningkatan kadar kolesterol. Proses pengolahan yang kurang higienis pun turut meningkatkan risiko keracunan.
Terlepas dari perdebatan cara menyantapnya maupun catatan soal kandungan gizinya, bubur ayam tetap menjadi bagian tak terpisahkan dari budaya kuliner Indonesia. Kehadirannya di meja makan sejak pagi hari mencerminkan betapa hidangan sederhana ini telah menembus batas waktu dan menyatukan selera dari berbagai penjuru Nusantara.