JAKARTA — Sejarah nasional Indonesia tidak bisa dilepaskan dari nama Haji Oemar Said (HOS) Tjokoroaminoto, seorang guru dan juga pemimpin Sarekat Islam yang dijuluki sebagai Raja Jawa Tanpa Mahkota. Dengan keilmuannya, ia menjadi guru kepada murid-murid yang memiliki pengaruh besar terhadap sejarah Indonesia, yaitu Soekarno, Alimin, Musso, Semaoen, dan Kartosoewirjo.
Meski murid-muridnya kelak berpisah dalam aliran nasionalisme, komunisme, hingga separatisme, Tjokroaminoto tetap dihormati sebagai figur yang meletakkan dasar semangat perlawanan terhadap kolonialisme Belanda. Pengaruhnya tak hanya di bidang organisasi, tetapi juga pemikirannya.
Atas jasa dan perjuangan yang dilakukannya, masyarakat Indonesia setidaknya mengetahui fakta-fakta mengenai H.O.S. Tjokroaminoto. Berikut lima Fakta Sang Raja Jawa Tanpa Mahkota yang dilansir dari berbagai sumber, seperti Tirto.id, dan Onews:
1. Menggabungkan Islam dan Sosialisme
Tjokroaminoto berani menyatukan ajaran Islam dengan prinsip sosialisme. Ia percaya Islam mengandung nilai keadilan sosial yang selaras dengan sosialisme untuk melawan ketimpangan di masa kolonial. Pemikiran ini dituangkan dalam buku Islam dan Sosialisme yang terbit tahun 1924. Karya tersebut menjadi rujukan utama kalangan pergerakan karena menawarkan pandangan bahwa perjuangan kemerdekaan bisa sejalan dengan keyakinan agama.
2. Memimpin Sarekat Islam di Puncak Kejayaan
Pada 1914, Tjokroaminoto terpilih sebagai Ketua Central Sarekat Islam dalam kongres di Yogyakarta, menggantikan Haji Samanhudi. Ia memindahkan kantor pusat dari Surakarta ke Surabaya. Dalam satu tahun kepemimpinannya, anggota resmi Sarekat Islam melonjak menjadi 400 ribu orang. Pertumbuhan ini membuktikan kemampuannya memobilisasi massa dan menjadikan organisasi itu kekuatan politik besar di Hindia Belanda.
3. Mengubah Sarekat Islam Menjadi Partai Politik
Tahun 1923, Tjokroaminoto mengubah Sarekat Islam menjadi Partai Sarekat Islam Indonesia (PSII). Langkah ini diambil setelah mengeluarkan anggota yang condong ke paham kiri. Perubahan tersebut menjaga organisasi tetap pada visi awal sekaligus menyesuaikan dengan dinamika politik saat itu. PSII kemudian menjadi salah satu partai penting hingga masa kemerdekaan.
4. Memimpin Aksi Bela Nabi Muhammad
Awal 1918, Tjokroaminoto memimpin Tentara Kandjeng Nabi Mohammad di Surabaya sebagai respons terhadap tulisan majalah Djawi Hiswara yang dianggap menghina Nabi Muhammad SAW. Aksi ini menggerakkan ratusan ribu anggota Sarekat Islam. Dampak aksi tersebut sangat besar, pada 1919 jumlah anggota organisasi membengkak hingga 2,5 juta orang. Peristiwa itu memperkuat solidaritas umat sekaligus basis massa pergerakan nasional.
5. Ditetapkan Pahlawan Nasional oleh Soekarno
Atas segala jasanya, HOS Tjokroaminoto ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional pada 9 November 1961. Penghargaan ini diberikan langsung oleh Presiden Soekarno, mantan muridnya, melalui Surat Keputusan Nomor 590 Tahun 1961. Gelar ini mengakui peran besar Tjokroaminoto dalam membangun fondasi kemerdekaan Indonesia.
Warisan Tjokroaminoto tetap relevan hingga kini. Ia menunjukkan bahwa seorang guru bisa membentuk pemimpin bangsa meski murid-muridnya memilih ideologi berbeda. Semangat perjuangan, keberanian berpikir kritis, dan kemampuan menyatukan masyarakat menjadi pelajaran berharga yang ia tinggalkan bagi generasi muda Indonesia.