JAKARTA – Generasi Z atau Gen Z kerap menjadi sorotan dalam berbagai perbincangan publik. Lahir di tengah pesatnya perkembangan teknologi digital, generasi ini sering mendapat stigma negatif dari generasi sebelumnya. Mulai dari dianggap malas, terlalu bergantung pada gawai, hingga dinilai kurang menghormati otoritas.
Padahal, sejumlah anggapan tersebut tidak sepenuhnya tepat. Ada banyak karakteristik Gen Z yang justru lahir dari perubahan zaman dan tantangan sosial-ekonomi yang berbeda.
Berikut lima fakta tentang Gen Z yang sering disalahpahami oleh generasi sebelumnya:
1. Bukan Pemalas, tetapi Lebih Realistis Soal Dunia Kerja
Gen Z kerap dicap malas karena menolak lembur berlebihan atau pekerjaan dengan upah yang dinilai tidak sepadan. Faktanya, generasi ini lebih sadar akan pentingnya keseimbangan antara kehidupan kerja dan pribadi. Sikap tersebut bukan bentuk kemalasan, melainkan respons terhadap meningkatnya risiko kelelahan kerja atau burnout.
2. Aktivitas di Ponsel Tidak Selalu Identik dengan Hiburan
Kebiasaan Gen Z yang lekat dengan ponsel sering dianggap sebagai tanda kurang produktif. Namun, gawai justru menjadi alat utama untuk belajar, bekerja, hingga berwirausaha. Banyak Gen Z memanfaatkan media digital untuk membangun bisnis daring, mengembangkan keterampilan, serta memperluas jejaring profesional.
3. Sering Pindah Kerja Bukan Berarti Tidak Loyal
Fenomena berpindah pekerjaan atau job hopping kerap dipandang negatif. Bagi Gen Z, perpindahan kerja merupakan strategi adaptasi di tengah pasar tenaga kerja yang dinamis dan tidak pasti. Kesempatan pengembangan diri, lingkungan kerja sehat, dan kejelasan karier menjadi pertimbangan utama, bukan semata-mata loyalitas jangka panjang.
4. Terbuka Soal Kesehatan Mental, Bukan Tanda Kelemahan
Gen Z dikenal lebih terbuka membicarakan isu kesehatan mental seperti stres, kecemasan, dan depresi. Sikap ini sering disalahartikan sebagai bentuk kerapuhan. Padahal, keterbukaan tersebut menunjukkan meningkatnya kesadaran akan pentingnya kesehatan mental, yang sebelumnya kerap dianggap tabu untuk dibahas.
5. Kritis terhadap Otoritas, Bukan Tidak Sopan
Gen Z cenderung berani mempertanyakan aturan, kebijakan, atau keputusan pemimpin. Sikap kritis ini sering dianggap sebagai kurang ajar. Namun, karakter tersebut lahir dari kebiasaan mengakses berbagai sumber informasi dan budaya diskusi yang lebih setara, terutama di ruang digital.
Perbedaan cara pandang antara Gen Z dan generasi sebelumnya pada dasarnya mencerminkan perubahan zaman. Memahami konteks sosial dan tantangan yang dihadapi generasi muda menjadi kunci untuk membangun dialog lintas generasi yang lebih sehat dan konstruktif.