JEDDAH – Perjalanan spiritual menuju Tanah Suci tak selalu berjalan mulus, apalagi bagi jemaah lanjut usia seperti Mbah Sumbuk yang telah menginjak usia 109 tahun.
Saat menempuh penerbangan sekitar sepuluh jam dari Indonesia ke Jeddah bersama Kloter JKS 33, kondisi Mbah Sumbuk sempat memburuk.
Ia mengalami penurunan kesadaran hingga berhalusinasi, membuat perjalanan suci ini sempat dihentikan sementara untuk penanganan darurat.
“Beliau sempat drop di pertengahan jalan, sekitar enam jam dalam penerbangan. Kondisi terakhir, beliau sudah halusinasi, teriak-teriak, tidak nyambung diajak komunikasi,” ujar Ketua Kloter JKS 33, Hilman Fauzi, dikutip RRI Minggu (18/5/2025).
Kondisi darurat ini segera mendapat penanganan dari tim medis haji yang menyertai kloter.
Setelah diberikan oksigen dan perawatan intensif, kondisi Mbah Sumbuk secara bertahap kembali stabil.
Ia mulai bisa kembali makan, minum, dan berkomunikasi dengan baik.
Tenaga kesehatan haji (TKH), dr Murdiana, menyampaikan bahwa Mbah Sumbuk kini terus dipantau kesehatannya secara ketat di bawah pengawasan Klinik Kesehatan Haji Indonesia (KKHI).
“Alhamdulillah, beliau bersemangat sekali untuk berhaji. Setelah sempat diberi oksigen dan tindakan medis, beliau mulai bisa makan, minum, dan diajak bicara kembali,” kata dr Murdiana.
Selama di Arab Saudi, Mbah Sumbuk ditempatkan di hotel yang lokasinya disesuaikan agar mudah diakses tim medis. Ia tidak menjalani ibadah sendirian.
Sang anak bungsu, Sukmi (56), bersama suami dan anaknya turut menjadi pendamping setia dalam perjalanan spiritual ini.
Sukmi berkisah, sang ibu sempat menolak makan dalam perjalanan, yang menjadi penyebab awal turunnya kondisi kesehatan.
“Saya, suami saya, dan anak saya ikut mendampingi. Ibu pesan supaya saya urus sampai meninggal,” tutur Sukmi dengan mata berkaca-kaca.
Mbah Sumbuk sendiri sudah mendaftarkan diri untuk berhaji sejak tahun 2019.
Meski beberapa anaknya telah berpulang, tekadnya untuk memenuhi rukun Islam kelima tidak pernah goyah. Usia lanjut dan keterbatasan fisik tak menjadi penghalang.
Untuk memfasilitasi perjalanannya ke Makkah, pihak panitia telah menyiapkan bus khusus dengan lift hidrolik.
Ini memungkinkan kursi roda yang digunakan Mbah Sumbuk diangkat langsung ke dalam bus tanpa perlu dipindahkan, demi keamanan dan kenyamanan selama perjalanan.
Semangat Mbah Sumbuk menggambarkan keteguhan seorang perempuan renta yang menapaki jalan spiritual dengan tubuh lemah tapi jiwa yang kuat.
Di balik wajah renta dan tubuh yang tak lagi gagah, ada semangat dan cinta yang tak surut untuk menjawab panggilan Ilahi.***