JATIM – Tragedi tenggelamnya Kapal Motor Penumpang (KMP) Tunu Pratama Jaya di perairan Gilimanuk, Selat Bali, memicu respons cepat dari Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan (Basarnas). Untuk mempercepat upaya pencarian korban, Basarnas mengerahkan pasukan khusus dengan keahlian menyelam bawah laut yang mumpuni.
Kepala Basarnas, Marsekal Madya TNI Mohammad Syafii, memastikan bahwa tim elit dari Basarnas Special Group telah diterjunkan langsung dari pusat. *“Kita kirim dari Basarnas special group dari pusat. Kita (kirim dari pusat) 10,”* ujar Syafii usai rapat bersama Komisi V DPR RI di Gedung Nusantara, Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, pada Senin (7/7/2025).
Tim penyelam ini memiliki kemampuan khusus untuk melakukan operasi pencarian di bawah permukaan laut, sebuah keahlian krusial mengingat kondisi laut di Selat Bali yang dikenal memiliki arus kuat dan gelombang tinggi. Tak hanya dari Jakarta, Basarnas juga memobilisasi personel dari daerah-daerah terdekat yang memiliki kualifikasi serupa untuk memperkuat misi kemanusiaan ini.
Operasi Pencarian Maksimal di Tengah Tantangan Alam
Pencarian korban KMP Tunu Pratama Jaya, yang tenggelam pada Rabu (2/7/2025) malam, menjadi tantangan besar bagi tim SAR gabungan. Cuaca buruk dengan gelombang laut mencapai 2–2,5 meter dan arus bawah laut yang kuat menyulitkan operasi. Namun, Basarnas tetap berkomitmen untuk memaksimalkan upaya dengan melibatkan berbagai potensi SAR, termasuk kapal, helikopter, dan drone.
Selain 10 penyelam elit dari pusat, Basarnas juga mengerahkan KN SAR Arjuna serta helikopter Dauphin AS365 HR-3606 untuk observasi udara dan koordinasi taktis. *“Basarnas sedang mengerahkan pesawat Helikopter Dauphin AS365 HR-3606 menuju Banyuwangi untuk observasi udara pencarian visual, evakuasi serta koordinasi taktis dari udara,”* ungkap Syafii.
Sinergi Lintas Instansi untuk Misi Kemanusiaan
Operasi SAR ini tidak hanya melibatkan Basarnas, tetapi juga TNI AL, Polri, dan relawan lokal seperti nelayan. TNI AL bahkan mengerahkan tiga kapal perang dan pasukan katak dari Komando Pasukan Katak (Kopaska) yang didukung teknologi sonar canggih untuk mendeteksi keberadaan kapal dan korban di dasar laut.
Hingga hari ketiga pencarian, tim SAR gabungan telah berhasil mengevakuasi 29 korban selamat dan menemukan enam korban meninggal dunia. Namun, masih ada sekitar 30 penumpang dan kru yang dinyatakan hilang, termasuk tujuh anak buah kapal (ABK). Area pencarian pun diperluas ke arah selatan, mengikuti pola arus laut, dengan fokus di sekitar Pantai Pebuahan, Jembrana, tempat sejumlah korban ditemukan sebelumnya.
Harapan dari Informasi Masyarakat
Kepala Basarnas Bali, I Nyoman Sidakarya, berharap peran masyarakat, khususnya nelayan, dapat membantu mempercepat penemuan korban. *“Mudah-mudahan ada informasi dari masyarakat terutama nelayan, karena kebanyakan korban itu ditemukan di Pantai Pebuahan Jembrana,”* ujarnya.
Tragedi KMP Tunu Pratama Jaya menjadi pengingat akan pentingnya keselamatan pelayaran di jalur penyeberangan sibuk seperti Ketapang–Gilimanuk. Basarnas juga telah memberikan rekomendasi kepada ASDP untuk meningkatkan kewaspadaan dan standar keselamatan demi mencegah kejadian serupa di masa depan.