JAKARTA – Pemerintah Indonesia tengah menggodok terobosan baru untuk mempermudah ibadah haji dan umrah dengan menjajaki jalur laut sebagai alternatif transportasi. Inisiatif ini diharapkan menjadi solusi efisien dan ekonomis, sekaligus memberikan pengalaman unik bagi jemaah Indonesia menuju Tanah Suci.
Menteri Agama Nasaruddin Umar menyampaikan bahwa pihaknya sedang mengkaji penggunaan kapal laut untuk mendukung keberangkatan jemaah haji dan umrah. “Kami sedang menjajaki kemungkinan menggunakan jalur laut untuk haji dan umrah,” ujar Nasaruddin dalam keterangannya di Jakarta, Rabu (9/7/2025).
Gagasan ini muncul untuk menjawab tantangan tingginya biaya transportasi udara yang sering memberatkan jemaah. Dengan memanfaatkan jalur laut, pemerintah berupaya menekan ongkos perjalanan hingga 30-40%, sekaligus mengurangi antrean panjang daftar tunggu haji yang kini mencapai puluhan tahun di beberapa wilayah.
Studi Kelayakan untuk Kenyamanan Jemaah
Kementerian Agama bekerja sama dengan Kementerian Perhubungan tengah melakukan studi mendalam untuk memastikan kelayakan jalur laut. Fokus utama meliputi pemilihan kapal berstandar internasional, rute pelayaran, serta fasilitas pendukung seperti pelabuhan dan akomodasi selama perjalanan. “Kami sedang kaji, apakah nanti memungkinkan atau tidak,” kata Nasaruddin.
Nasaruddin menegaskan, kapal yang digunakan harus memenuhi standar keamanan dan kenyamanan, termasuk fasilitas kesehatan dan akomodasi yang mendukung kebutuhan jemaah. “Kami ingin memastikan jemaah tetap nyaman dan ibadahnya tidak terganggu,” tegasnya.
Peluang Ekonomi dan Rute Strategis
Inovasi ini juga membuka peluang pengembangan rute pelayaran khusus, seperti dari Jakarta atau Surabaya menuju Jeddah, Arab Saudi. Penggunaan pelabuhan utama di Indonesia diharapkan dapat mendorong pertumbuhan ekonomi lokal, khususnya di sektor maritim dan pariwisata religi.
Pengamat transportasi maritim, Dr. Budi Santoso dari Universitas Indonesia, menyambut positif rencana ini. Ia menyebut jalur laut berpotensi menjadi game-changer dalam penyelenggaraan haji. “Jika infrastrukturnya memadai, jalur laut bisa memangkas biaya signifikan dibandingkan penerbangan, sekaligus menampung lebih banyak jemaah,” ujar Budi.
Namun, ia menambahkan bahwa tantangan seperti waktu tempuh yang lebih lama dan koordinasi lintas sektor perlu diantisipasi. “Pemerintah harus memastikan kapal dilengkapi fasilitas layak dan rute yang efisien agar tetap kompetitif,” tambahnya.
Langkah Menuju Haji yang Lebih Inklusif
Rencana ini juga sejalan dengan visi pemerintah untuk membuat ibadah haji dan umrah lebih terjangkau dan inklusif. Dengan biaya yang lebih rendah, diharapkan lebih banyak masyarakat dari berbagai lapisan ekonomi dapat melaksanakan ibadah ke Tanah Suci.
Langkah ini mendapat sambutan positif dari berbagai kalangan, termasuk organisasi keagamaan. Ketua Umum Ikatan Persaudaraan Imam Masjid Indonesia (IPIM), yang juga Menteri Agama, Nasaruddin Umar, optimistis bahwa inovasi ini akan memperkuat posisi Indonesia sebagai negara dengan pengelolaan haji terbaik di dunia.
Pemerintah berharap studi kelayakan ini rampung dalam waktu dekat, sehingga uji coba jalur laut dapat segera direalisasikan. Dengan terobosan ini, Indonesia tidak hanya mempermudah akses ibadah, tetapi juga memperkuat posisinya sebagai pusat keunggulan maritim dan religi di kawasan.