JAKARTA – Upaya Indonesia mempercepat transformasi menuju ekonomi hijau berbasis digital mendapat dukungan baru.
Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara) resmi menandatangani nota kesepahaman (MoU) strategis dengan Japan Bank for International Cooperation (JBIC), lembaga keuangan milik pemerintah Jepang, untuk mendukung proyek-proyek ramah lingkungan nasional.
Kolaborasi ini menjadi tonggak penting dalam mendorong pembiayaan berbagai sektor prioritas hijau, mulai dari dekarbonisasi, pengembangan energi terbarukan, pengelolaan air limbah, hingga pembangunan infrastruktur digital berkelanjutan di Indonesia.
Kemitraan ini juga diyakini akan memperkuat ekosistem investasi dalam proyek-proyek berskala besar yang mengedepankan keberlanjutan dan inovasi.
Danantara Indonesia menjalin kemitraan strategis dengan Japan Bank for International Cooperation (JBIC) melalui penandatanganan Nota Kesepahaman di Tokyo, Kamis (10/7).
Kerja sama ini bertujuan membuka akses pembiayaan bagi proyek-proyek prioritas di sektor transisi energi, ekonomi sirkular, dan digitalisasi berkelanjutan.
Dalam pernyataan resminya, CEO Danantara Indonesia Rosan Roeslani menyebut kemitraan tersebut mencerminkan keyakinan global terhadap komitmen Indonesia dalam membangun masa depan ekonomi hijau.
“Di Danantara Indonesia, kami berkomitmen untuk memobilisasi penanaman modal strategis yang mendukung prioritas nasional sekaligus memenuhi standar global untuk keberlanjutan, dampak, dan tata kelola,” ujar Rosan.
Proyek Hijau dan Pembiayaan Inovatif
Isi nota kesepahaman ini mencakup kerja sama dalam merancang dan mengeksekusi proyek-proyek transformasional di berbagai wilayah Indonesia.
Fokus utamanya mencakup sektor energi bersih seperti pembangkit energi terbarukan, jaringan transmisi listrik yang efisien, serta pengelolaan sumber daya air dan limbah secara berkelanjutan.
Tak hanya itu, pembangunan green data center serta sistem layanan kesehatan berkelanjutan turut menjadi bagian dari rencana.
JBIC juga menyediakan akses ke beragam instrumen keuangan termasuk pinjaman, investasi ekuitas, jaminan, hingga solusi keuangan khusus lainnya.
Hal ini diyakini akan mempercepat pendanaan bagi proyek-proyek hijau yang sejalan dengan strategi pembangunan jangka panjang Indonesia.
“MoU ini kembali menambah jumlah tonggak sejarah dalam strategi kemitraan internasional Danantara Indonesia,” ujar Rosan, menegaskan peran penting lembaganya dalam memperluas jejaring investasi global.
Dukungan Global untuk Ekonomi Hijau
Kerja sama dengan JBIC melengkapi sederet langkah internasional yang telah dijalankan Danantara dalam waktu kurang dari dua tahun.
Sebelumnya, institusi ini telah membentuk kemitraan investasi senilai USD 4 miliar bersama Qatar Investment Authority (QIA) untuk mendanai pembangunan infrastruktur strategis nasional.
Selain itu, Danantara juga menggandeng Russian Direct Investment Fund (RDIF) untuk meluncurkan Russia-Indonesia Investment Platform (RIDNIP) dengan komitmen modal mencapai EUR 2 miliar atau sekitar Rp37,64 triliun.
Platform ini dirancang untuk membiayai sektor-sektor vital yang mendukung pertumbuhan ekonomi jangka panjang Indonesia.
Baru-baru ini, kerja sama lain ditandatangani bersama perusahaan energi terkemuka Arab Saudi, ACWA Power, dengan nilai pendanaan proyek hingga USD 10 miliar atau sekitar Rp162,36 triliun, sebagai bagian dari komitmen menuju transisi energi rendah karbon.
Langkah-langkah strategis ini memperlihatkan posisi Danantara Indonesia sebagai katalis penting dalam menarik investasi asing yang fokus pada keberlanjutan dan digitalisasi, sejalan dengan visi Indonesia menuju ekonomi hijau inklusif.***