JAKARTA — Laju pertumbuhan kendaraan listrik atau electric vehicle (EV) dan kendaraan hybrid plug-in (PHEV) mulai mengubah peta industri energi global. Lonjakan penggunaan kendaraan berbasis baterai disebut telah memangkas konsumsi minyak dunia jutaan barel per hari dan diperkirakan terus meningkat hingga akhir dekade ini.
Laporan InsideEVs yang mengutip data BloombergNEF (BNEF) menyebutkan, penggunaan EV dan PHEV sepanjang tahun ini telah menekan konsumsi minyak global sekitar 2,3 juta barel per hari. Angka tersebut menjadi salah satu sinyal kuat bahwa transisi energi mulai berdampak langsung terhadap permintaan bahan bakar fosil dunia.
BNEF memperkirakan pengurangan konsumsi minyak akan terus bertambah seiring pertumbuhan penjualan kendaraan listrik secara global yang masih menunjukkan tren agresif dalam beberapa tahun terakhir.
Data Benchmark Mineral Intelligence mencatat penjualan kendaraan plug-in global mencapai sekitar 20,7 juta unit sepanjang tahun lalu. Jumlah itu tumbuh sekitar 20 persen dibandingkan tahun sebelumnya, menandakan adopsi kendaraan listrik semakin meluas di berbagai negara.
Menariknya, penurunan konsumsi minyak terbesar saat ini tidak hanya berasal dari mobil penumpang listrik. Kendaraan roda dua dan roda tiga listrik di negara-negara berkembang Asia justru menjadi penyumbang terbesar dalam penghematan bahan bakar fosil.
“Segmen kendaraan roda dua dan roda tiga listrik diperkirakan menghemat sekitar 1,1 juta barel minyak per hari tahun lalu,” tulis laporan tersebut.
Sementara itu, mobil penumpang listrik disebut berkontribusi mengurangi konsumsi sekitar 741 ribu barel minyak per hari.
Fenomena tersebut memperlihatkan bahwa transisi menuju energi bersih tidak hanya terjadi di negara maju, tetapi juga mulai mendominasi pasar transportasi harian di kawasan berkembang, terutama Asia yang memiliki populasi kendaraan roda dua sangat besar.
Permintaan Minyak Diprediksi Terus Menyusut
BloombergNEF memproyeksikan kendaraan listrik akan menjadi faktor utama penurunan konsumsi minyak global dalam lima tahun mendatang. Pada 2030, kendaraan listrik diperkirakan mampu memangkas kebutuhan minyak dunia hingga 5,3 juta barel per hari.
Angka itu dinilai sangat besar mengingat satu barel minyak mentah setara sekitar 42 galon bahan bakar. Proyeksi tersebut menggambarkan perubahan struktural besar yang tengah berlangsung di industri otomotif dan energi global.
Lembaga riset energi Ember memang mengeluarkan perkiraan yang lebih konservatif. Namun, dampak kendaraan listrik terhadap permintaan minyak tetap dianggap signifikan.
“EV dan PHEV diperkirakan dapat mengurangi sekitar 1,7 juta barel per hari pada 2025,” demikian proyeksi Ember.
Jumlah tersebut bahkan disebut setara hampir 70 persen ekspor minyak Iran yang melintasi Selat Hormuz pada tahun lalu. Kondisi itu memperlihatkan bagaimana perubahan di sektor transportasi mulai memengaruhi keseimbangan pasar minyak internasional.
Faktor Ekonomi Dorong Peralihan ke EV
Selain isu lingkungan dan pengurangan emisi karbon, kendaraan listrik kini semakin menarik secara ekonomi bagi konsumen. Biaya pengisian daya listrik dinilai lebih murah dibandingkan penggunaan bensin di banyak negara.
Keunggulan lain juga datang dari biaya perawatan yang lebih rendah karena kendaraan listrik memiliki komponen mekanis lebih sedikit dibanding mobil berbahan bakar konvensional.
Di Amerika Serikat, Departemen Energi AS memperkirakan biaya tahunan penggunaan Hyundai Ioniq 5 AWD 2024 lebih rendah dibandingkan Toyota RAV4 Hybrid AWD 2024, baik dari sisi konsumsi energi maupun biaya perawatan kendaraan.
Kondisi geopolitik global yang terus memicu volatilitas harga minyak turut menjadi faktor pendorong meningkatnya minat masyarakat terhadap kendaraan listrik. Ketidakpastian pasokan energi akibat konflik internasional membuat banyak konsumen mulai melihat EV sebagai pilihan transportasi jangka panjang yang lebih stabil.
Di tengah tekanan harga energi global, tren elektrifikasi kendaraan diperkirakan akan terus berkembang dan menjadi tantangan besar bagi industri minyak dunia dalam beberapa tahun mendatang.