JAKARTA – Pasar global pada awal pekan ini menunjukkan ketahanan meskipun ketegangan geopolitik di Timur Tengah kembali meningkat.
Investor memilih untuk tetap fokus pada peluang tercapainya kesepakatan yang dapat menjaga kelancaran jalur pelayaran di Selat Hormuz.
Perdagangan berlangsung tipis namun stabil, menandakan pelaku pasar belum memasukkan skenario terburuk dalam proyeksi mereka.
Sentimen hati-hati tersebut muncul meski akhir pekan dipenuhi laporan risiko eskalasi konflik regional yang lebih luas.
Mengutip laporan Invezz, Senin (20/4/2026) Futures S&P 500 tercatat melemah tipis sebesar 0,6% pada sesi perdagangan Asia.
Koreksi tersebut dinilai terbatas setelah indeks mencetak rekor tertinggi pada perdagangan Jumat sebelumnya.
Rendahnya volume transaksi memperkuat indikasi bahwa pasar masih menunggu arah kebijakan dan perkembangan geopolitik.
Pasar saham Asia justru bergerak lebih positif dengan mayoritas indeks mencatat kenaikan.
Sebaliknya, futures Eropa mengindikasikan pembukaan lebih lemah dengan penurunan sekitar 1,1%.
Pasar minyak mengalami respons lebih tajam terhadap dinamika geopolitik yang berkembang.
Harga minyak sempat melonjak sebelum akhirnya terkoreksi dan bertahan di kisaran kenaikan 5–6% harian.
Meski meningkat, harga minyak masih berada di bawah level psikologis 100 dolar AS per barel.
Situasi ini menunjukkan kekhawatiran pasokan meningkat tetapi belum mengarah pada gangguan besar.
Ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran kembali menjadi faktor utama ketidakpastian global.
Washington mengklaim telah menyita kapal kargo Iran yang diduga mencoba menghindari blokade.
Iran merespons dengan ancaman balasan serta penolakan untuk melanjutkan perundingan dengan Amerika Serikat.
Situasi ini menambah tekanan terhadap stabilitas kawasan, khususnya jalur energi di Selat Hormuz.
Negara-negara sekutu Amerika Serikat menyampaikan kekhawatiran terhadap pendekatan diplomasi Washington.
Sejumlah pihak menilai strategi negosiasi AS terlalu cepat dan berisiko menimbulkan dampak jangka panjang.
Pernyataan Perdana Menteri Kanada Mark Carney menyoroti bahwa hubungan dekat dengan AS kini justru menjadi tantangan.
Kondisi tersebut mencerminkan meningkatnya kegelisahan diplomatik di antara sekutu Barat.
Meski Iran sempat mengklaim penutupan Selat Hormuz, data pelayaran menunjukkan aktivitas tetap berjalan.
Data Kpler mencatat lebih dari 20 kapal melintas pada Sabtu, tertinggi sejak awal Maret.
Hal ini menunjukkan bahwa arus perdagangan energi global masih berlangsung relatif normal.
Pelaku pasar merespons data tersebut dengan optimisme bahwa gangguan besar masih dapat dihindari.
Fokus pasar ke depan diperkirakan kembali bergeser ke laporan ekonomi, rilis data, dan kinerja perusahaan.
Di Inggris, Perdana Menteri Keir Starmer dijadwalkan menyampaikan pernyataan di parlemen.
Ia menghadapi tekanan politik terkait kontroversi penunjukan Peter Mandelson sebagai duta besar AS.
Situasi ini menambah dimensi politik baru di tengah dinamika global yang sudah penuh ketidakpastian.***