JERUSALEM – Palestina bersama negara-negara Arab dan anggota Organisasi Kerja Sama Islam memperingatkan dugaan upaya Israel mempercepat aneksasi wilayah Palestina yang diduduki di tengah ketidakstabilan kawasan.
Peringatan tersebut disampaikan dalam forum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), ketika situasi di Tepi Barat, Yerusalem Timur, dan Jalur Gaza dinilai semakin memburuk serta mengancam masa depan perdamaian di kawasan.
Utusan Palestina untuk PBB, Riyad Mansour, menegaskan bahwa berbagai langkah yang dilakukan Israel berpotensi mengubah kondisi di lapangan secara permanen dan menghancurkan peluang terwujudnya solusi dua negara.
Salah satu perhatian utama adalah proyek permukiman E1 yang dirancang menghubungkan Yerusalem Timur dengan permukiman Israel di sekitarnya melalui pembangunan baru dan penyitaan lahan Palestina.
Menurut Palestina dan Kelompok Arab, proyek tersebut dapat memecah wilayah Palestina serta menjadi ancaman serius bagi prospek perdamaian di masa depan.
Mansour mendesak Dewan Keamanan PBB menjalankan tanggung jawabnya sesuai resolusi internasional dan mengambil tindakan nyata untuk menghentikan perluasan permukiman serta aktivitas yang mengarah pada aneksasi.
Ia juga mengingatkan bahwa rakyat Palestina tidak memiliki tanah air selain Palestina dan membutuhkan perlindungan nyata dari komunitas internasional.
Dalam pertemuan itu, perwakilan Turki yang berbicara atas nama OKI mengecam upaya penguatan pendudukan Israel dan menyerukan langkah internasional untuk menghentikan pengusiran paksa warga Palestina.
Sementara itu, Kelompok Arab meminta Dewan Keamanan PBB dan negara-negara dunia bertindak tegas guna menghentikan ekspansi permukiman serta memastikan akuntabilitas sesuai hukum internasional.
Mansour turut berharap Amerika Serikat dapat menggunakan pengaruhnya terhadap Israel setelah menyinggung pernyataan Presiden AS, Donald Trump, yang disebut menolak aneksasi wilayah Palestina.***