SOFIA, BULGARIA – Ribuan warga Bulgaria memadati pusat kota Sofia pada Sabtu (14/9/2025) untuk menyuarakan penolakan terhadap rencana pemerintah mengganti mata uang nasional, lev, dengan euro.
Aksi ini dipimpin oleh partai oposisi serta gerakan nasionalis Vazrajdane yang menilai kebijakan tersebut sebagai bentuk “penyerahan” politik dan ekonomi kepada Uni Eropa.
Mengutip laporan Viory, para demonstran membawa bendera dan spanduk, menyerukan agar pemerintah membatalkan langkah menuju adopsi euro.
Menurut mereka, penggunaan euro tidak hanya mengancam stabilitas ekonomi dalam negeri, tetapi juga berpotensi mengikis identitas dan kedaulatan Bulgaria.
“Prancis telah jatuh, Bulgaria juga akan jatuh. Seluruh tatanan anti-manusia ini akan jatuh, yang ingin mengubah tidak hanya negara kita, tetapi juga benua kita, menjadi korban perang berdarah,” kata pemimpin Vazrajdane, Kostadin Kostadinov.
Suara penolakan juga datang dari parlemen Eropa. Anggota Parlemen Rada Laikova menegaskan, “Kami tidak ingin dianeksasi secara paksa oleh Titanic yang tenggelam di zona euro ini!”
Banyak warga menekankan risiko ekonomi yang akan muncul jika euro diterapkan. Mereka menilai harga kebutuhan pokok bisa melonjak tajam, sementara nilai gaji belum tentu menyesuaikan.
“Saya di sini untuk pelestarian Lev Bulgaria. Untuk kemerdekaan finansial Bulgaria. Dan diferensiasi dari Eropa yang tenggelam,” ujar seorang peserta aksi.
Kekhawatiran warga juga terkait biaya hidup yang dinilai bisa makin berat.
“Saya telah tinggal di Inggris selama sembilan tahun. Saya ingin memberi tahu Anda bahwa harga makanan tiga kali lebih murah di sana, dan gajinya lima kali lebih tinggi […] Saya mencintai tanah air saya dan saya ingin sesuatu berubah,” ungkap seorang demonstran lainnya.
Protes ini berlangsung di tengah persiapan resmi pemerintah Bulgaria yang berencana masuk ke zona euro pada 1 Januari 2026. Komisi Eropa bersama Bank Sentral Eropa (ECB) sudah menetapkan nilai konversi lev ke euro di angka 1,95583 lev per euro, dan rencana ini telah disetujui Brussels.
Meski pemerintah dan institusi Eropa meyakini bahwa adopsi euro akan memperkuat perekonomian sekaligus menekan inflasi, survei publik terbaru menunjukkan masyarakat masih terbelah.
Separuh mendukung langkah itu, sementara sebagian lainnya menolak keras karena khawatir perubahan justru mempercepat kenaikan harga.***