JAKARTA – Air rebusan jagung kerap disebut sebagai salah satu cara alami untuk membantu menurunkan kadar gula darah. Klaim ini menarik perhatian, terutama bagi penderita diabetes atau mereka yang ingin menjaga kadar gula tetap stabil. Namun, efektivitasnya masih menjadi perdebatan di kalangan medis.
Jagung diketahui mengandung serat, vitamin B, magnesium, dan antioksidan. Kandungan seratnya berperan dalam memperlambat penyerapan gula dalam darah, sehingga membantu mengontrol kadar glukosa. Selain itu, senyawa bioaktif dalam jagung diyakini memiliki dampak positif terhadap metabolisme gula.
Air rebusan jagung biasanya dibuat dengan merebus biji jagung dan rambut jagung (corn silk). Rambut jagung mengandung flavonoid, alkaloid, dan tanin yang bersifat antiinflamasi dan diyakini mampu menurunkan kadar gula darah.
Beberapa manfaat yang dikaitkan dengan air rebusan jagung antara lain:
- Efek diuretik alami: Meningkatkan produksi urin yang membantu mengeluarkan kelebihan gula melalui metabolisme.
- Pengaturan gula darah: Kandungan aktif dalam rambut jagung dipercaya dapat meningkatkan sensitivitas insulin.
Meski banyak digunakan dalam pengobatan tradisional, bukti ilmiah yang mendukung klaim tersebut masih terbatas. Penelitian awal menunjukkan bahwa ekstrak rambut jagung berpotensi menurunkan kadar gula darah pada hewan uji, namun studi pada manusia masih diperlukan untuk memastikan efektivitasnya.
Untuk mencoba manfaatnya, jagung segar beserta rambutnya dapat direbus selama 15–20 menit. Air rebusannya diminum setelah dingin tanpa tambahan gula atau pemanis.
Meski dianggap aman, tidak semua orang merasakan manfaat yang sama. Penderita diabetes atau individu dengan kondisi medis tertentu disarankan berkonsultasi dengan dokter sebelum menjadikan air rebusan jagung sebagai bagian dari pengelolaan gula darah.
Secara umum, air rebusan jagung memiliki potensi sebagai pendukung pengaturan gula darah berkat kandungan nutrisinya. Namun, manfaat ini sebaiknya dipadukan dengan pola makan sehat dan gaya hidup aktif, sambil menunggu bukti ilmiah yang lebih kuat.