JAKARTA – Tanggal 26 Oktober selalu dikenang sebagai momen krusial dalam sejarah global, mulai dari tragedi politik hingga bencana alam dahsyat. Di Indonesia, hari itu abadi sebagai titik klimaks erupsi Gunung Merapi tahun 2010 yang merenggut ratusan nyawa, termasuk juru kunci legendaris Mbah Maridjan.
Peristiwa ini tidak hanya mengguncang Yogyakarta dan Jawa Tengah, tapi juga menjadi pelajaran berharga tentang kekuatan alam dan ketangguhan manusia.
Erupsi Merapi, yang dimulai sejak akhir September 2010 dengan aktivitas seismik intens, mencapai puncaknya pada Selasa, 26 Oktober 2010. Letusan dahsyat itu melontarkan awan panas dan material vulkanik setinggi ribuan meter, memaksa evakuasi massal di lereng gunung.
Akibatnya, setidaknya 353 jiwa melayang, termasuk Mbah Maridjan, penjaga makam Keraton Yogyakarta yang dikenal sebagai “Manusia Harimau” karena keberaniannya tetap bertahan di posko Cangkringan.
Mbah Maridjan, yang lahir pada 1928, bukan hanya simbol spiritual bagi warga sekitar. Ia mewakili tradisi luhur Jawa dalam menghadapi amarah gunung suci itu.
Tubuhnya ditemukan terkubur abu vulkanik di rumahnya, masih dalam posisi sujud — sebuah gambar yang mengharukan dan menjadi ikon bencana ini. Letusan Merapi 2010 juga memaksa ribuan warga mengungsi, merusak infrastruktur, dan menimbulkan kerugian ekonomi mencapai miliaran rupiah, menurut data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB).
Tak hanya di Indonesia, 26 Oktober menyimpan cerita kelam lain di panggung dunia. Pada 1979, Presiden Korea Selatan Park Chung-hee, tokoh kunci modernisasi negeri ginseng itu, tewas dibunuh oleh sahabat lamanya, Kim Jae-kyu, direktur KCIA (badan intelijen Korea). Lahir di Gumi-si pada 30 September 1917, Park memimpin Korea Selatan dari 1961 hingga 1979 melalui industrialisasi ekspor yang pesat, meski kariernya ternoda tuduhan pelanggaran hak asasi manusia. Ia bahkan masuk daftar “100 Orang Asia Abad Ini” versi Time Magazine tahun 1999, sebelum tragedi itu merenggut nyawanya di usia 62 tahun di Seoul.