JAKARTA – Perdana Menteri sekaligus Menteri Luar Negeri Qatar, Sheikh Mohammed bin Abdulrahman Al-Thani, menyampaikan kekecewaannya atas pelanggaran gencaran senjata terbaru oleh Israel di Jalur Gaza. Dalam pernyataan yang disampaikan Rabu (29/10/2025) di Dewan Hubungan Luar Negeri, New York, Al-Thani menyebut insiden tersebut “mengecewakan dan membuat frustrasi,” namun menegaskan bahwa Doha segera bertindak dan berkoordinasi penuh dengan Amerika Serikat untuk meredakan situasi.
“Namun, kejadian kemarin, sejujurnya, sangat mengecewakan dan membuat frustrasi bagi kami. Kami berusaha menahannya, dan kami langsung bergerak setelah kejadian ini, dengan koordinasi penuh bersama Amerika Serikat, dan kami melihat bahwa AS juga berkomitmen pada kesepakatan ini,” ujarnya, dilansir dari Anadolu, Kamis (30/10/2025).
Al-Thani mengungkapkan bahwa selama proses gencatan senjata berlangsung, Qatar telah mencatat sejumlah pelanggaran, meski sebagian besar tidak dilaporkan karena dianggap tidak signifikan. Namun, insiden pada Selasa malam dinilai cukup serius.
Ia juga menyebut bahwa insiden tersebut merupakan “pelanggaran oleh pihak Palestina,” meskipun kelompok Hamas membantah keterlibatan dalam serangan yang menewaskan seorang tentara Israel di Rafah, Gaza selatan. “Kami belum tahu. Kami belum memiliki verifikasi apakah ini benar atau tidak,” katanya, sembari menegaskan bahwa fokus utama Qatar adalah menjaga keberlangsungan gencatan senjata.
“Saya yakin apa yang terjadi kemarin merupakan pelanggaran,” lanjutnya. “Kedua pihak utama mengakui bahwa gencatan senjata harus dipertahankan dan mereka harus mematuhi perjanjian tersebut.”
Qatar, bersama Turkiye, Mesir, dan Amerika Serikat, merupakan mediator utama dalam kesepakatan gencatan senjata yang dicapai pada 10 Oktober lalu. Keempat negara menandatangani dokumen perjanjian tersebut dalam pertemuan puncak internasional di Sharm el-Sheikh, Mesir.
Pernyataan Al-Thani muncul di tengah laporan terbaru dari Kementerian Kesehatan Gaza yang menyebutkan bahwa lebih dari 100 warga Palestina, termasuk 46 anak-anak, tewas akibat serangan Israel sejak Selasa malam. Sebanyak 253 orang lainnya dilaporkan luka-luka, termasuk 78 anak-anak dan 84 perempuan.
Sejak gencatan senjata diberlakukan, setidaknya 211 warga Palestina telah tewas dan 597 lainnya terluka akibat serangan Israel. Secara keseluruhan, sejak 7 Oktober 2023, lebih dari 68.000 warga Palestina—mayoritas perempuan dan anak-anak—dilaporkan tewas, dan lebih dari 170.000 lainnya terluka. Serangan tanpa henti tersebut telah membuat Gaza nyaris tak layak huni, memicu kelaparan, dan memperburuk krisis kesehatan.