JAKARTA – Ketua Umum PBNU KH Yahya Cholil Staquf (Gus Yahya) menegaskan menolak desakan mundur dari pimpinan Syuriyah PBNU, menyusul munculnya risalah rapat harian Syuriyah yang memicu gejolak internal di tubuh organisasi tersebut.
Gus Yahya, yang terpilih melalui Muktamar NU ke-34 pada 2021, menekankan komitmennya untuk menyelesaikan masa baktinya secara utuh. “Saya sama sekali tidak terbesit pikiran untuk mundur, karena saya mendapatkan amanat dari muktamar itu lima tahun,” ujar Gus Yahya kepada wartawan, Minggu 23 November 2025.
Pernyataan ini datang hanya dua hari setelah Rais Aam PBNU, Miftachul Akhyar, secara resmi menyatakan permintaan pengunduran diri melalui kesimpulan Rapat Harian Syuriyah PBNU yang digelar pada Kamis 20 November 2025. Dokumen risalah tersebut, yang ditandatangani langsung oleh Rais Aam, menjadi pemicu utama kontroversi ini dan langsung menjadi sorotan publik pada Jumat 21 November 2025.
Dalam risalah yang beredar luas, disebutkan secara eksplisit: “Berdasarkan musyawarah antara Rais Aam dan dua Wakil Ketua Rais Aam memutuskan KH Yahya Cholil Staquf mundur sebagai Ketua Umum PBNU.” Keputusan ini diambil melalui mekanisme musyawarah mufakat antar-pimpinan tertinggi Syuriyah, lembaga pengawas internal NU yang bertugas menjaga konsistensi kepemimpinan organisasi.
Gus Yahya tidak hanya menolak, tetapi juga menegaskan keyakinannya untuk menjalankan tugas hingga akhir periode. “Saya mendapatkan amanat dari muktamar itu lima tahun dan akan saya jalani selama lima tahun. Insya Allah saya sanggup,” katanya dengan nada mantap, menunjukkan tekad kuat untuk mempertahankan mandat dari ribuan ulama dan aktivis NU di seluruh negeri.
Gejolak ini mencerminkan dinamika internal Nahdlatul Ulama, organisasi yang memiliki jutaan anggota dan pengaruh luas dalam politik, sosial, serta keagamaan Indonesia. Sejak terpilih, Gus Yahya dikenal dengan pendekatan moderatnya dalam isu-isu global seperti perdamaian antaragama dan toleransi, yang sempat menuai pujian internasional. Namun kini, tantangan domestik seperti ini menguji soliditas kepemimpinannya di tengah tuntutan reformasi struktural PBNU.
Hingga kini, belum ada tanggapan resmi dari pihak Syuriyah PBNU terkait pernyataan Gus Yahya. Pengamat organisasi keagamaan memprediksi bahwa isu ini berpotensi memicu diskusi lebih lanjut di tingkat cabang dan ranting NU, terutama menjelang agenda muktamar berikutnya.
Bagi Nahdliyin, konflik ini bukan sekadar perebutan kursi, melainkan ujian atas prinsip musyawarah yang menjadi pondasi utama gerakan Islam tradisionalis tersebut.