SURABAYA – Pemerintah kembali menegaskan arah kebijakan Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (Kopdes Merah Putih) sebagai fondasi baru percepatan ekonomi nasional yang berpijak dari desa.
Dalam acara ‘Indonesia Punya Kamu 2025’ di Universitas Airlangga Surabaya, Senin (24/11/2025), Menteri Koperasi Ferry Juliantono memaparkan strategi besar penguatan koperasi desa sebagai motor pertumbuhan ekonomi yang menyentuh lapisan masyarakat paling bawah.
Ferry menggarisbawahi bahwa program tersebut merupakan implementasi langsung dari Asta Cita Presiden Prabowo yang menempatkan pembangunan ekonomi desa sebagai prioritas utama dalam pembenahan struktur nasional.
Ia menyebut desa masih menjadi kantong kemiskinan akibat keterbatasan listrik, internet, fasilitas kesehatan, serta akses terhadap pupuk bersubsidi yang selama ini tidak merata.
“Masih ada belasan ribu desa yang tidak terkoneksi internetnya. Di desa marak praktek rentenir, di desa marak praktek tengkulak, di desa minim obat dan fasilitas kesehatan, di desa mereka mendapatkan harga lebih mahal dibandingkan dari masyarakat yang di kota.”
“Pupuk susah didapat, kalaupun didapat harganya mahal dan tidak tepat waktu dan tidak tepat jumlahnya,” terang Ferry.
Karena itu pemerintah menargetkan pembangunan lebih dari 80 ribu koperasi desa/kelurahan sebagai langkah besar pembenahan struktur ekonomi masyarakat desa.
Ferry menegaskan bahwa warga desa tidak boleh lagi sekadar menjadi objek ekonomi, melainkan harus menjadi subjek yang memiliki lembaga usaha resmi melalui koperasi.
Dengan koperasi desa, masyarakat tidak hanya menjadi nasabah perbankan besar, tetapi berhak mengelola sumber pembiayaan milik sendiri untuk memperkuat usaha lokal.
Ia memaparkan bahwa pemerintah telah mengeluarkan Instruksi Presiden Nomor 9 Tahun 2025 dan Inpres Nomor 17 Tahun 2025 yang memandatkan percepatan pembangunan infrastruktur fisik koperasi desa di seluruh Indonesia.
Gudang, gerai penjualan, fasilitas pengolahan, hingga perlengkapan operasional disebut Ferry sebagai elemen wajib yang harus segera dibangun demi memastikan koperasi bekerja optimal.
Kopdes Merah Putih dirancang memiliki tiga fungsi kunci yaitu penyedia sembako, penampung hasil produksi lokal, dan penyalur resmi bantuan pemerintah.
Ferry menuturkan sistem rantai pasok baru berbasis koperasi diyakini dapat menghapus pola lama yang merugikan petani seperti menjemur gabah di lantai hingga terpaksa menjual panen dengan harga rendah.
Ia menyebut adanya fasilitas dryer, cold storage, dan CAS (Control Atmosphere Storage) akan meningkatkan kualitas dan nilai jual hasil bumi petani, peternak, pekebun, hingga nelayan.***