JAKARTA – Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) DKI Jakarta angkat bicara terkait sorotan nasional atas risalah rapat harian Syuriyah PBNU yang mendorong Yahya Cholil Staquf atau Gus Yahya untuk mengundurkan diri dari jabatan ketua umum.
PWNU DKI Jakarta menyebut situasi tersebut sebagai bagian dari dinamika organisasi yang wajar terjadi.
Rapat konsolidasi yang digelar di Kantor PWNU DKI Jakarta pada Minggu malam, 23 November 2025, mempertemukan unsur Syuriyah dan Tanfidziyah untuk merumuskan sikap resmi guna merespons perkembangan internal di tubuh PBNU.
Berikut ini empat poin penting kesumpulan rapat PWNU DKI Jakarta:
1. Menyikapi kondisi internal PBNU. PWNU DKI Jakarta, dalam rangka menjaga marwah organisasi tidak berada dalam posisi menghakimi, menilai dan atau turut serta dalam membenarkan dan atau menyalahkan terhadap apa yang tengah terjadi di lingkungan kepengurusan Pengurus Besar NU ( PBNU ).
2. PWNU DKI Jakarta tidak akan mengambil langkah atau tindakan yang dapat memperkeruh terhadap apa yang terjadi di lingkungan kepengurusan PBNU. Untuk penyelesaiannya kami menyerahkan sepenuhnya kepada PBNU untuk mengambil keputusan terbaik.
3. PWNU DKI Jakarta akan terus menjalankan kegiatan roda perkumpulan sesuai dengan tugas wewenang dan ruang lingkupnya dalam rangka menjaga marwah organisasi.
4. PWNU DKI Jakarta memohon kepada Mustasyar PBNU dan para Masyayikh untuk menjadi mediator ishlah dan bila dipandang perlu, PWNU DKI Jakarta bersedia menjadi tuan rumah pertemuan tersebut.
Hasil keputusan tersebut ditandatangani Ketua Tanfidziyah, Samsul Ma’arif dan Sekretaris Bahaudin.
Lalu Katib Syuriyah, Lukman Hakim Hamid dan Rais Syuriyah, Muhyiddin Ishag turun mendatangani hasil keputusan PWNU DKI Jakarta tersebut.
Lukman Hakim Hamid yang juga sebagai Pengasuh Ponpes Alhamid Jakarta, turut hadir saat pertemuan alim ulama PBNU Bersama Ketum PBNU, Gus Yahya.***