JAKARTA – Hong Kong diguncang kebakaran paling mematikan dalam tiga dekade terakhir yang menewaskan sedikitnya 36 orang. Tragedi ini menyoroti praktik penggunaan perancah bambu dan jaring konstruksi mudah terbakar yang masih lazim dipakai di kota tersebut.
Asal muasal api belum jelas, namun rekaman menunjukkan kobaran cepat melintasi jaring hijau hingga membuat kisi-kisi bambu runtuh.
Selama puluhan tahun, bambu menjadi bahan utama perancah di Hong Kong—murah, fleksibel, dan mudah didapat. Tradisi ini berasal dari daratan China, di mana bambu sejak zaman kuno digunakan dalam arsitektur, bahkan disebut-sebut dipakai dalam pembangunan Tembok Besar. Meski kini perancah logam lebih dominan, Hong Kong masih memiliki sekitar 2.500 ahli perancah bambu terdaftar.
Kisi-kisi bambu kerap dipadukan dengan jaring hijau untuk melindungi pejalan kaki dari serpihan bangunan. Namun, kombinasi itu justru mempercepat penyebaran api, seperti yang terjadi di kompleks Wang Fuk Court, Tai Po.
Pemimpin Hong Kong John Lee menyatakan satuan tugas telah dibentuk untuk menyelidiki penyebab kebakaran.
“Unit peninjau independen Departemen Bangunan akan menyelidiki apakah dinding eksterior gedung memenuhi standar tahan api. Jika terjadi kesalahan, kami akan meminta pertanggungjawaban sesuai dengan hukum dan peraturan,” ujarnya, dilansir dari Reuters, Kamis (27/11/2025).
Pemerintah juga berjanji memeriksa proyek konstruksi yang sedang berlangsung, termasuk kualitas jaring perancah. Pada Maret lalu, otoritas mengumumkan 50% kontrak pekerjaan umum baru wajib menggunakan perancah logam. Namun fokus kebijakan lebih pada keselamatan pekerja, bukan risiko kebakaran. Data resmi mencatat 22 kematian tukang perancah bambu antara 2019–2024.
Meski desakan keselamatan meningkat, Sekretaris Ketenagakerjaan Chris Sun menegaskan pada Juli lalu bahwa “pemerintah tidak berniat melarang penggunaan perancah bambu saat ini.”
Ironisnya, insiden serupa terjadi Oktober lalu ketika perancah bambu raksasa di Menara Chinachem terbakar, menghanguskan jaring konstruksi dan tiang bambu hingga merusak fasad gedung.