PENTAGON, AS – Langkah Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, kembali memantik ketegangan global. Usai Pentagon mengumumkan penarikan 5.000 tentara dari Jerman, Trump justru melontarkan ancaman yang lebih jauh: pengurangan pasukan akan dilakukan dalam skala lebih besar, memicu kekhawatiran serius terhadap masa depan aliansi transatlantik.
Pernyataan keras itu disampaikan Trump di Florida, Sabtu waktu setempat. Tanpa menyebut angka pasti, ia menegaskan rencana pengurangan pasukan tidak akan berhenti di angka 5.000.
“Kita akan turun jauh. Dan kita akan pergi jauh lebih dari 5.000,” ujar Trump kepada wartawan.
Pernyataan tersebut muncul hanya sehari setelah Pentagon mengonfirmasi perintah penarikan awal sekitar 5.000 personel militer dari Jerman. Menteri Pertahanan AS, Pete Hegseth, disebut telah menginstruksikan proses itu rampung dalam kurun enam hingga 12 bulan.
Juru bicara Pentagon, Sean Parnell, menyebut langkah tersebut merupakan hasil evaluasi strategis atas kebutuhan militer Amerika di Eropa. Namun, di balik alasan resmi itu, aroma politik balasan justru semakin kuat.
Bau Sanksi Politik ke Berlin
Penarikan pasukan ini secara luas dipandang bukan sekadar reposisi militer, melainkan sinyal “hukuman” Washington terhadap Berlin. Hubungan kedua negara memanas setelah Kanselir Jerman, Friedrich Merz, melontarkan kritik terbuka terhadap kebijakan AS dalam konflik Iran.
Laporan The New York Times menyebut, sejumlah pejabat AS secara internal mengakui langkah ini sebagai bentuk tekanan terhadap Jerman yang dianggap kurang solid mendukung kebijakan Washington.
Dari ancaman di media sosial hingga keputusan resmi dalam hitungan hari, manuver Trump dinilai menunjukkan pendekatan konfrontatif yang semakin tajam terhadap sekutu lama.
Dampak Nyata bagi Kekuatan Militer AS di Eropa
Jika terealisasi penuh, pengurangan ini akan menggerus signifikan kehadiran militer AS di Jerman—yang saat ini mencapai sekitar 36.000 personel aktif, terbesar di Eropa. Bahkan, kebijakan ini juga dikabarkan membatalkan rencana era sebelumnya untuk menempatkan unit artileri misil di kawasan tersebut.
Artinya, posisi militer Amerika di Eropa berpotensi mundur ke level sebelum eskalasi besar konflik Rusia-Ukraina pada 2022.
Menteri Pertahanan Jerman, Boris Pistorius, mencoba meredam kekhawatiran dengan menyebut langkah ini sebagai sesuatu yang “dapat diprediksi”. Ia juga menegaskan Eropa harus mulai berdiri di atas kaki sendiri dalam urusan pertahanan.
Sementara itu, NATO menyatakan masih berkoordinasi dengan Washington untuk memahami arah kebijakan terbaru tersebut.
Risiko Strategis: Eropa di Persimpangan
Langkah ini bukan yang pertama. Dalam setahun terakhir, Washington juga memangkas kehadiran militer di Rumania serta membuka wacana serupa di Italia dan Spanyol. Media Politico bahkan melaporkan bahwa keputusan terbaru ini mengejutkan internal Pentagon sendiri.
Para analis menilai dampaknya tidak bisa dianggap remeh. Akademisi keamanan internasional dari Universitas Portsmouth, Dafydd Townley, menyebut kebijakan ini “sangat gegabah”.
Ia menekankan bahwa Jerman selama ini menjadi pusat logistik vital bagi operasi militer udara AS di Eropa.
Seorang pejabat pertahanan AS juga mengakui, meski secara taktis dampaknya terbatas, pesan politik yang dikirim jauh lebih besar: komitmen Amerika terhadap Eropa tengah dipertanyakan.
Dengan sinyal pengurangan pasukan yang makin agresif, negara-negara Eropa kini dipaksa mempercepat kemandirian pertahanan mereka. Jika tren ini berlanjut, peta keamanan Eropa bukan hanya berubah—tetapi bisa bergeser drastis dalam waktu dekat.