BEKASI – Kepolisian memastikan sopir taksi Green SM berinisial RRP yang terlibat dalam kecelakaan maut di perlintasan rel Bekasi Timur tidak berada di bawah pengaruh alkohol maupun narkotika saat kejadian.
Polda Metro Jaya mengungkap hasil tes urine terhadap RRP, pengemudi taksi yang kendaraannya tertemper KRL relasi Cikarang–Jakarta. Pemeriksaan dilakukan setelah insiden tabrakan yang juga melibatkan Kereta Api Argo Bromo Anggrek.
Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Budi Hermanto menyampaikan bahwa hasil tes menunjukkan kondisi RRP bersih dari zat terlarang maupun minuman beralkohol saat peristiwa berlangsung.
“Ya, itu (tes urine) sudah dilakukan, tidak (dalam pengaruh alkohol),” ujarnya kepada wartawan, dikutip Minggu (3/4).
Meski kasus telah naik ke tahap penyidikan, status RRP hingga kini masih sebagai saksi. Polisi masih mendalami rangkaian peristiwa untuk mengungkap penyebab pasti kecelakaan.
Selain memeriksa RRP, penyidik juga telah meminta keterangan dari sekitar 30 orang lainnya. Mereka terdiri dari penjaga palang pintu, saksi mata di lokasi, korban, petugas operasional PT KAI, hingga pihak-pihak yang mengetahui kejadian tersebut.
Berdasarkan keterangan resmi Kementerian Perhubungan, insiden bermula saat sebuah mobil melintas di perlintasan sebidang JPL 85 dan tertemper rangkaian KRL relasi Bekasi–Cikarang.
Akibat kejadian itu, perjalanan KRL terganggu dan rangkaian yang terlibat harus dievakuasi. Kereta tersebut kemudian dioperasikan sebagai Perjalanan Luar Biasa (PLB) dengan nomor 5181 karena tidak lagi berjalan sesuai jadwal normal.
Dampak lanjutan dari insiden itu membuat satu rangkaian KRL lain dengan kode PLB 5568 yang menuju Cikarang dihentikan di peron Stasiun Bekasi Timur.
Namun nahas, KA Argo Bromo Anggrek (KA 4) relasi Jakarta–Surabaya tidak dapat berhenti sepenuhnya, sehingga terjadi tabrakan dengan rangkaian KRL PLB 5568 yang sedang dalam posisi berhenti.
Kecelakaan tersebut menimbulkan korban jiwa cukup besar. Sebanyak 16 penumpang KRL dilaporkan meninggal dunia, sementara 90 orang lainnya mengalami luka-luka dan kini menjalani perawatan di sejumlah fasilitas kesehatan.
Penyidik masih terus mengusut penyebab kecelakaan secara menyeluruh, termasuk mengevaluasi sistem keselamatan di perlintasan sebidang guna mencegah kejadian serupa terulang.


