JAKARTA – Langkah Amerika Serikat memblokade pelabuhan Iran kini dinilai berbalik menghantam kepentingannya sendiri. Alih-alih melumpuhkan Teheran, kebijakan tersebut justru memicu gejolak ekonomi global sekaligus menggerus posisi strategis Washington di panggung internasional.
Pakar kebijakan luar negeri dari Quincy Institute for Responsible Statecraft, Trita Parsi, menilai tekanan ekonomi yang dilancarkan melalui blokade tidak efektif dan cenderung kontraproduktif.
Dalam wawancara dengan Al Jazeera, Parsi menegaskan bahwa Iran bukan pemain baru dalam menghadapi tekanan internasional.
“Iran telah berada di bawah berbagai tekanan ekonomi dan sanksi selama 47 tahun. Tidak satu pun dari tekanan tersebut berhasil menghancurkan Iran atau memaksa mereka untuk menyerah,” ujarnya.
Ia memperingatkan, kebijakan ini justru memperluas dampak krisis ke luar kawasan konflik, termasuk ke negara-negara yang tidak terlibat langsung.
Efek Domino Global Tak Terbendung
Dampak blokade mulai terasa nyata di pasar energi global. Kuwait, misalnya, disebut mengalami gangguan ekspor minyak dalam skala yang belum pernah terjadi selama puluhan tahun.
“Kuwait belum mengekspor minyak selama sebulan penuh – sesuatu yang belum pernah terjadi dalam 30 atau 40 tahun,” kata Parsi.
Gangguan ini memperlihatkan bahwa tekanan terhadap Iran tidak berhenti di level bilateral, melainkan menjalar ke rantai pasok global dan memicu ketidakstabilan harga energi. Dalam konteks ini, China dipandang berpotensi menjadi aktor kunci untuk menekan kedua pihak kembali ke meja diplomasi.
AS Kehilangan Taring
Lebih jauh, Parsi menyebut kebijakan Washington justru membuka celah kelemahan strategis. Penarikan pasukan dari Jerman disebut memperkuat persepsi bahwa pengaruh militer AS mulai memudar.
“Amerika Serikat pada dasarnya telah kalah secara strategis,” tegasnya.
Ia bahkan membandingkan situasi ini dengan dinamika konflik Ukraina dan Rusia, di mana kekuatan besar dapat dipaksa menghadapi tekanan asimetris yang menggerus keunggulan mereka.
Kondisi ini berisiko menimbulkan keraguan di kalangan sekutu terhadap kredibilitas jaminan keamanan AS.
Diplomasi Tersandera Blokade
Parsi menilai blokade laut justru menjadi penghambat serius bagi jalur diplomasi.
“Negosiasi dapat terus berjalan tanpa blokade. Jika ada, kebijakan ini justru menghambat kemajuan diplomatik,” ujarnya.
Ia menyoroti bahwa momentum emas sempat muncul pasca-gencatan senjata, ketika tekanan domestik terhadap pemerintahan Donald Trump mulai mereda, terutama terkait lonjakan harga energi.
Namun, keputusan melanjutkan blokade dinilai sebagai langkah yang salah arah. Alih-alih memperkuat posisi tawar, kebijakan tersebut justru memperkeruh situasi.
Harga Minyak Melonjak, Tekanan Balik ke AS
Efek paling nyata terlihat pada lonjakan harga minyak global. Parsi menyebut kondisi saat ini ironis—harga energi justru lebih tinggi dibandingkan saat konflik terbuka berlangsung.
“Harga minyak sekarang lebih tinggi selama gencatan senjata daripada selama perang itu sendiri,” katanya.
Situasi ini mempertegas bahwa strategi tekanan maksimal tidak selalu berujung pada kemenangan. Dalam kasus ini, kebijakan yang dimaksudkan untuk menekan Iran justru berubah menjadi bumerang yang memperlemah posisi Amerika Serikat sendiri di tengah tekanan global yang kian meningkat.