Kunjungan sejumlah pejabat negara ke Pidie Jaya Aceh pada Sabtu (29/11) menghadirkan suasana haru di tengah sisa-sisa bencana. Sosok Siti Hediati Hariyadi atau Titiek Soeharto, yang datang bersama putranya Didit Prabowo, Menteri Pertahanan Syafrie Syamsudin, dan Mendagri Tito Karnavian, menyusuri Gampong Blang Awe—wilayah yang luluh lantak akibat banjir bandang lima hari lalu.
Ratusan warga kini bertahan di pengungsian Meunasah serta Gedung Tgk Chik Pante Geulima. Titiek berbincang dengan warga korban bencana, mendengarkan kisah kehilangan dengan penuh empati.
Suasana berubah haru ketika Eliana, salah satu korban banjir, memohon bantuan untuk membangun kembali rumahnya yang habis tersapu air bah. “Bu… rumah kami habis. Tolong bangunkan kami rumah, jembatan, jalan… semua hilang,” ucapnya dengan suara pecah.
Titiek menggenggam tangannya erat, ikut menyeka air mata yang tak tertahan. Tangis pun pecah di tengah warga yang mengenang betapa cepat air bah merenggut hidup mereka.
Tak sedikit warga yang menangis ketika Titiek menghampiri satu per satu. Mantan istri Presiden Prabowo itu tampak berulang kali mengusap sudut matanya. “Sabar ya, insya Allah kami akan bantu,” ujarnya pelan namun tegas, memberi setitik harapan di tengah kehancuran.
Di luar, sisa-sisa banjir masih terasa kuat: bau lumpur, langkah pengungsi yang kebingungan, dan anak-anak yang mencari keluarga mereka.
Ribuan warga tersebar di titik pengungsian di berbagai kecamatan. Banjir ini disebut yang terparah dalam sejarah Pidie Jaya—menyisakan cerita sama: kehilangan, ketakutan, dan harapan yang hampir padam.
Titiek meninjau rumah-rumah yang rata dengan tanah. Beberapa warga meminta izin berfoto, bukan untuk bersuka cita, tetapi untuk menguatkan diri—sebagai tanda bahwa mereka tidak sendirian dan dunia harus tahu luka mereka.
“Kami hanya ingin rumah, jalan, dan jembatan,” ucap seorang bapak bergetar di depan sisa tiang rumahnya. Pemerintah melalui Mendagri Tito Karnavian dan Menhan Syafrie Syamsudin menegaskan komitmen: seluruh kebutuhan pengungsi—from logistik hingga obat-obatan—akan segera dikirim.
Menutup kunjungan, langkah Titiek terhenti saat melihat puing sebuah rumah yang hancur total. Ia mendengarkan cerita pemilik rumah yang berusaha menyelamatkan diri ketika banjir melanda.
“Ikut prihatin ya pak, semoga semuanya segera bisa diatasi,” ujar Titiek sebelum pergi mengunjungi korban banjir lainnya.
Tak ada kata yang cukup untuk mengganti kehilangan sebesar itu, namun empati yang ia bawa terasa nyata dan menenangkan.
Hari itu, Pidie Jaya bukan hanya dikunjungi pejabat negara—tetapi juga hati yang datang untuk mendengarkan, merasakan, dan membantu menyembuhkan luka yang masih basah.