JAKARTA – Kasus super flu di Indonesia paling banyak teridentifikasi di Jawa Timur, Jawa Barat, dan Kalimantan Timur. Kondisi ini memicu kewaspadaan mengingat virus influenza A H3N2 subclade-K dikenal memiliki tingkat penularan tinggi serta berisiko menimbulkan gejala berat pada kelompok rentan.
Berdasarkan data surveilans Kementerian Kesehatan hingga akhir Desember 2025, tercatat 62 kasus super flu yang tersebar di delapan provinsi. Tiga wilayah dengan jumlah kasus tertinggi adalah Jawa Timur, Jawa Barat, dan Kalimantan Timur.
Mengenal super flu
Dokter spesialis anak konsultan respirologi Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), Dr. dr. Nastiti Kaswandani, Sp.A(K)., menjelaskan bahwa super flu merupakan sebutan untuk influenza A H3N2 subclade-K yang memiliki daya tular lebih cepat dibandingkan influenza musiman.
“Salah satu alasan disebut super flu karena penularannya cepat. Satu orang bisa menularkan ke dua sampai tiga orang di sekitarnya,” kata Nastiti dalam diskusi daring yang dikutip dari Antara, Senin (29/12/2025).
Virus tersebut menyebar melalui droplet saat penderita batuk, bersin, atau melalui kontak langsung dengan cairan pernapasan. Risiko penularan meningkat di wilayah dengan kepadatan penduduk dan mobilitas tinggi.
Konsentrasi kasus di tiga provinsi
Juru Bicara Kementerian Kesehatan, Widyawati, mengungkapkan bahwa hasil Whole Genome Sequencing (WGS) yang selesai pada 25 Desember 2025 menunjukkan subclade-K telah beredar di Indonesia sejak Agustus 2025.
“Hingga akhir Desember tercatat 62 kasus di delapan provinsi, terbanyak di Jawa Timur, Kalimantan Selatan, dan Jawa Barat,” ujar Widyawati, dikutip dari Antara, Kamis (1/1/2026).
Surveilans juga mencatat sebagian besar kasus terjadi pada anak usia 1–10 tahun. Selain itu, 64 persen penderita merupakan perempuan, mengindikasikan anak-anak menjadi kelompok yang paling rentan terinfeksi.
Gejala dan kelompok berisiko
Secara klinis, super flu memiliki gejala yang serupa dengan influenza A pada umumnya, sehingga sulit dibedakan tanpa pemeriksaan laboratorium. Nastiti menyebutkan, gejala yang sering muncul antara lain demam tinggi, menggigil, sakit kepala, nyeri tenggorokan, pilek, dan batuk.
Kelompok dengan risiko tinggi mengalami kondisi berat meliputi balita, lansia, ibu hamil, serta penderita penyakit kronis seperti penyakit jantung, kanker, dan gangguan sistem imun.
Efektivitas vaksin influenza
Menanggapi kekhawatiran publik, Kementerian Kesehatan memastikan vaksin influenza yang beredar saat ini masih efektif untuk mencegah sakit berat, rawat inap, hingga kematian akibat influenza A H3N2, termasuk subclade-K.
“Berdasarkan penilaian WHO, subclade-K tidak menunjukkan peningkatan keparahan dibandingkan varian lain,” ujar Widyawati.
Vaksinasi tetap direkomendasikan, terutama bagi kelompok rentan yang tinggal di daerah dengan angka kasus tinggi seperti Jawa Timur, Jawa Barat, dan Kalimantan Timur.
Waktu pemberian vaksin
Ketua Indonesia Influenza Foundation (IIF), Prof. Dr. dr. Cissy B Kartasasmita, Sp.A(K)., menegaskan vaksin influenza perlu diberikan setiap tahun karena virus influenza terus bermutasi.
“Vaksin influenza diberikan setiap tahun karena virusnya berbeda-beda, dan kasus influenza di Indonesia bisa terjadi sepanjang tahun,” kata Cissy, dikutip dari Antara, Jumat (19/11/2021).
IDAI merekomendasikan vaksin influenza mulai usia enam bulan ke atas. Pada vaksinasi pertama, sebagian anak memerlukan dua kali suntikan, kemudian dilanjutkan vaksin tahunan. Ketua Satgas Imunisasi Dewasa PAPDI, Prof. Dr. dr. Samsuridjal Djauzi, Sp.P.D., K-AI., menambahkan bahwa vaksin flu efektif menurunkan tingkat keparahan penyakit, khususnya pada pasien dengan komorbid.
Upaya pencegahan
Selain vaksinasi, Kementerian Kesehatan mengimbau masyarakat untuk menerapkan perilaku hidup sehat guna menekan penyebaran super flu. Langkah pencegahan meliputi mencuci tangan secara rutin, memakai masker saat sakit, menerapkan etika batuk dan bersin, menjaga asupan gizi dan istirahat, serta tetap di rumah ketika mengalami gejala flu.
Dengan tingginya kasus super flu di Jawa Timur, Jawa Barat, dan Kalimantan Timur, peningkatan kewaspadaan dan kepatuhan terhadap langkah pencegahan menjadi kunci agar penularan virus tidak semakin meluas.