Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat aktivitas kegempaan yang tinggi di Sulawesi Utara dan Nusa Tenggara Timur (NTT) sepanjang 2025. Total 8.011 gempa bumi tektonik terkonfirmasi terjadi di dua provinsi tersebut selama periode 1 Januari hingga 31 Desember 2025.
BMKG Stasiun Geofisika Manado melaporkan 3.377 kejadian gempa mengguncang Sulawesi Utara dan wilayah sekitarnya. Sementara itu, BMKG Stasiun Geofisika Kupang mencatat 4.634 gempa di NTT, meningkat signifikan dibandingkan 4.025 kejadian pada 2024.
Gempa Terbesar Capai Magnitudo 7,6
Koordinator Bidang Data dan Informasi BMKG Stasiun Geofisika Manado, Muhammad Zulkifli, menjelaskan bahwa magnitudo gempa di Sulawesi Utara bervariasi dari M1,0 hingga gempa terbesar M7,6. Gempa kuat tersebut terjadi pada 10 Oktober 2025 di Laut Filipina, wilayah Kepulauan Talaud, dan sempat memicu peringatan potensi tsunami.
Di NTT, gempa terbesar tercatat di Laut Sawu pada 27 Oktober 2025 dengan magnitudo 6,3, setelah pemutakhiran dari kekuatan awal 6,8. Kepala Stasiun Geofisika Kelas I Kupang, Arief Tyastama, menyebut gempa tersebut terjadi di kedalaman 75 kilometer dan guncangannya dirasakan hingga Maumere, Ende, Kefamenanu, Alor, Kupang, Waingapu, dan Lembata.
Didominasi Gempa Dangkal dan Berkekuatan Kecil
BMKG mencatat mayoritas aktivitas kegempaan di kedua wilayah berupa gempa dangkal dan berkekuatan kecil. Di Sulawesi Utara, tercatat 2.060 gempa dangkal, 1.283 gempa menengah, dan 34 gempa dalam. Dari jumlah tersebut, 87 gempa dirasakan masyarakat di berbagai daerah.
Di NTT, gempa kecil dengan magnitudo di bawah 5 mendominasi dengan 4.422 kejadian, sementara gempa dangkal (kedalaman <60 km) tercatat 3.378 kejadian. Sebanyak 37 gempa dirasakan masyarakat, dengan 13 di antaranya berkekuatan di atas magnitudo 5. Arief menegaskan, tidak ada gempa berpotensi tsunami di NTT sepanjang 2025.
Pusat Aktivitas dan Imbauan BMKG
Zulkifli menjelaskan, pusat aktivitas gempa di Sulawesi Utara terkonsentrasi di tiga kawasan utama, yakni Teluk Tomini, Laut Maluku, dan Laut Sulawesi. Dampak guncangan bahkan dirasakan hingga Maluku Utara dan Kalimantan Timur.
Sejumlah wilayah yang kerap mengalami getaran antara lain Kota Manado (II–III MMI), Bitung, Minahasa Utara, Kotamobagu (III MMI), serta Bolaang Mongondow Raya. Di Kepulauan Nusa Utara, Melonguane mencatat intensitas III–IV MMI, sementara Sofifi dan Ternate di Maluku Utara merasakan guncangan dengan intensitas III–IV MMI.
BMKG mengimbau masyarakat tetap tenang dan hanya mengakses informasi resmi melalui aplikasi Info BMKG.
“Jika merasakan guncangan kuat dan berayun lebih dari 20 detik, segera menjauhi pantai dan menuju tempat yang lebih tinggi tanpa menunggu sirene,” ujar Arief.