JAKARTA – Presiden Prancis Emmanuel Macron menyerukan agar BRICS dan Kelompok Tujuh (G7) tidak berkembang menjadi blok yang saling berhadapan. Peringatan itu disampaikan dalam pidato tahunan di hadapan para duta besar Prancis, Kamis (8/1/2026), yang disiarkan Istana Elysee melalui platform X.
“Sejalan dengan upaya mengatasi ketidakseimbangan global di G7, prioritas kami yakni melakukan segala upaya untuk menghindari fragmentasi dunia, mencegah G7 berubah menjadi klub anti-China, klub yang memecah belah dunia, atau klub anti-BRICS, dan memastikan BRICS tidak menjadi klub anti-G7,” kata Macron, dilansir dari Sputnik, Jumat (9/1/2026).
Ia menekankan, jika kedua kelompok internasional itu saling bersaing, maka dunia berpotensi menghadapi skenario terburuk.
BRICS sendiri merupakan organisasi antar pemerintah yang dibentuk pada 2006 oleh Rusia, China, India, dan Brazil. Afrika Selatan kemudian bergabung pada 2011. Sejak awal 2024, blok tersebut semakin meluas dengan masuknya sejumlah negara baru.
Ajudan Presiden Rusia, Yuri Ushakov, sebelumnya menyatakan bahwa Belarus, Bolivia, Kazakhstan, Thailand, Kuba, Uganda, Malaysia, Uzbekistan, dan beberapa negara lain resmi menjadi mitra BRICS mulai 1 Januari 2025.
Pada kesempatan yang sama, pemerintah Brazil yang saat itu memegang presidensi BRICS mengumumkan bahwa Indonesia telah bergabung sebagai anggota penuh.