RIYADH, ARAB SAUDI – Perusahaan pertambangan raksasa Arab Saudi, Maaden (Saudi Arabian Mining Company), mengumumkan penambahan sumber daya emas baru sebesar 7,8 juta ons di empat lokasi utama di Kerajaan, termasuk area tambang emas unggulan Mansourah Massarah di wilayah Makkah. Pengumuman ini menjadi sorotan global karena mendukung ambisi diversifikasi ekonomi nonmigas melalui sektor pertambangan.
Menurut pernyataan resmi Maaden pada 12 Januari 2026, penambahan sumber daya tersebut berasal dari program pengeboran intensif yang mencakup tambang operasional, prospek tahap awal, serta penemuan baru di wilayah Arabian Shield. Lokasi Mansourah Massarah mencatat peningkatan terbesar dengan tambahan bersih 3 juta ons secara tahunan, sehingga total sumber daya emas di tambang tersebut kini mencapai 10,4 juta ons dari 116 juta ton bijih dengan kadar rata-rata 2,8 gram per ton.
Tambang Mansourah Massarah, yang merupakan tambang emas terbesar dan termutakhir di Arab Saudi, memiliki kapasitas produksi tahunan sekitar 250.000 ons emas. Penemuan baru ini diperkirakan akan memperpanjang umur tambang, mendukung ekspansi operasi bawah tanah, serta meningkatkan potensi produksi secara keseluruhan.
“The addition of more than seven million ounces through drilling across the four areas demonstrates the scale and ongoing potential of Maaden’s gold portfolio. Our assets are growing, and that growth directly supports future cash generation,” ujar CEO Maaden, Bob Wilt.
Lokasi lain yang turut berkontribusi meliputi Uruq 20/21 dan Umm As Salam, masing-masing dengan tambahan sekitar 1,67 juta ons, serta penemuan perdana di Wadi Al Jaww sebesar 3,08 juta ons. Hasil pengeboran juga menunjukkan bahwa mineralisasi masih terbuka di kedalaman pada deposit Mansourah dan Massarah. Aktivitas pengeboran lanjutan direncanakan berlangsung sepanjang 2026 guna mendukung potensi pertumbuhan lebih lanjut.
Langkah ini sejalan dengan Visi 2030 Arab Saudi yang secara agresif mendorong sektor pertambangan sebagai pilar ketiga ekonomi nasional setelah minyak dan petrokimia. Kerajaan hampir menggandakan estimasi nilai sumber daya mineral yang belum dimanfaatkan menjadi USD 2,5 triliun, mencakup emas, tembaga, fosfat, serta logam tanah jarang yang penting bagi transisi energi hijau.
Permintaan global terhadap mineral kritis, khususnya tembaga, diproyeksikan hampir dua kali lipat menjadi 49 juta ton metrik pada 2035 untuk mendukung pengembangan teknologi energi terbarukan. Arab Saudi berencana menerbitkan lebih dari 30 lisensi eksplorasi bagi investor internasional tahun ini, serta menggelar konferensi pertambangan di Riyadh yang akan dihadiri pejabat dan eksekutif global.
Sebagai produsen minyak terbesar dunia, Arab Saudi kini semakin menonjol dalam persaingan global perebutan mineral kritis bersama Amerika Serikat, Tiongkok, dan Rusia. Kerajaan menargetkan kontribusi sektor pertambangan terhadap Produk Domestik Bruto meningkat empat kali lipat hingga 2030, dengan ambisi menjadikan wilayahnya sebagai pusat pertambangan super yang membentang dari Asia Tengah hingga Timur Tengah dan Afrika, yang diyakini menyimpan setidaknya sepertiga sumber daya mineral dunia.
Penemuan ini tidak hanya menjanjikan sumber pendapatan baru bagi Arab Saudi, tetapi juga membuka peluang investasi, penciptaan lapangan kerja, serta memperkuat posisi strategis Kerajaan di pasar mineral global yang terus berkembang pesat.