JAKARTA – Hubungan dagang Amerika Serikat dan Kanada kembali memanas setelah Ottawa membuka keran impor terbatas kendaraan listrik (electric vehicle/EV) buatan China. Kebijakan tersebut langsung memicu reaksi keras dari pemerintahan Presiden Donald Trump, yang menilai langkah Kanada berisiko merugikan industri otomotif Amerika Utara.
Kanada mengizinkan masuknya hingga 49.000 unit EV asal China per tahun dengan tarif rendah. Keputusan ini dinilai Washington sebagai langkah strategis yang keliru, terutama di tengah persaingan global industri kendaraan listrik.
Menteri Transportasi AS, Sean Duffy, secara terbuka menyampaikan kekecewaannya terhadap kebijakan Ottawa. Berbicara di pabrik Ford di Ohio, Duffy memperingatkan dampak jangka panjang dari masuknya mobil listrik China ke pasar Kanada.
“Saya pikir mereka akan meninjau kembali keputusan ini dan pasti menyesal telah membawa mobil China ke pasar mereka,” ujar Duffy dikutip dari Reuters, Sabtu (17/1/2026).
Pernyataan tersebut muncul sehari setelah Kanada dan China mengumumkan kesepakatan dagang awal pada 16 Januari 2026. Dalam kesepakatan itu, Perdana Menteri Kanada Mark Carney menyetujui kuota impor EV China dengan tarif most-favoured-nation (MFN) sebesar 6,1 persen. Angka ini turun tajam dibandingkan tarif 100 persen yang diberlakukan sejak 2024, yang sebelumnya sejalan dengan kebijakan proteksi AS.
Sebagai kompensasi, China berencana menurunkan tarif impor biji kanola asal Kanada menjadi sekitar 15 persen mulai 1 Maret 2026, dari level sebelumnya yang mencapai 84 hingga 85 persen. Kesepakatan ini juga mencakup peluang kerja sama investasi dan penguatan rantai pasok EV.
Kanada menargetkan setidaknya separuh dari kuota EV impor tersebut dijual dengan harga di bawah CAD 35.000 pada 2030. Langkah ini dimaksudkan untuk memperluas akses masyarakat terhadap kendaraan listrik sekaligus mendorong ekosistem industri EV domestik.
Namun, Washington memandang kebijakan itu sebagai potensi “pintu belakang” bagi produk China untuk memperluas pengaruhnya di Amerika Utara. Perwakilan Dagang AS (USTR), Jamieson Greer, menyebut keputusan Kanada sebagai langkah yang bermasalah.
Meski demikian, Greer menilai volume impor yang dibatasi tidak akan berdampak langsung pada ekspor mobil Amerika ke Kanada. Ia menegaskan bahwa EV China tetap tidak akan memiliki akses ke pasar AS.
“Mobil-mobil itu pergi ke Kanada dan mereka tidak akan datang ke sini (AS). Ada alasan mengapa kami tidak menjual banyak mobil China di AS. Itu karena kami memiliki tarif untuk melindungi pekerja otomotif dan warga Amerika,” tegas Greer.
Greer juga menyoroti hambatan regulasi di Amerika Serikat, khususnya terkait keamanan siber. Sejak Januari 2025, AS menerapkan aturan ketat terhadap kendaraan yang terhubung ke internet dan sistem navigasi digital.
“Ada peraturan di Amerika mengenai keamanan siber kendaraan kami dan sistem di dalamnya. Saya pikir akan sulit bagi pihak China untuk mematuhi aturan semacam itu,” tambahnya.
Ketegangan terbaru ini mencerminkan upaya AS mempertahankan dominasi industri otomotif nasional di tengah tekanan global dari produsen China yang didukung subsidi besar. Di sisi lain, Kanada berharap kebijakan impor terbatas EV China dapat menarik investasi manufaktur, memperkuat rantai pasok, dan menghadirkan kendaraan listrik dengan harga lebih terjangkau bagi konsumen domestik.