JAKARTA – Direktur Utama PT Kereta Api Indonesia (PT KAI), Bobby Rasyidin, secara tegas menolak usulan Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) Arifah Fauzi terkait pemindahan gerbong wanita KRL ke bagian tengah rangkaian.
Usulan tersebut sebelumnya muncul setelah kecelakaan di Stasiun Bekasi Timur yang menewaskan 15 penumpang perempuan dari gerbong wanita yang berada di posisi ujung rangkaian tertabrak KA Argo Bromo Anggrek.
PT KAI menegaskan bahwa kebijakan keselamatan transportasi kereta api tidak akan membedakan penumpang berdasarkan gender dalam kondisi apa pun.
“KAI menjamin keselamatan, bagi kami keselamatan tidak ada toleransinya, tidak ada kompromi sama sekali, dan kami tidak membedakan gender laki-laki dan perempuan,” ungkap Bobby dalam jumpa pers di Stasiun Bekasi Timur, Rabu (29/4/2026).
Meski demikian, Bobby menjelaskan bahwa penempatan gerbong wanita selama ini bertujuan untuk memberikan kenyamanan serta kemudahan akses bagi penumpang perempuan.
“Jadi selama ini kami mengutamakan perempuan untuk tingkat kenyamanan dan kemudahan akses dan tentunya keamanan di dalam kereta juga,” paparnya.
Ia kembali menegaskan bahwa PT KAI tidak memberi toleransi terhadap penurunan standar keselamatan bagi seluruh pengguna jasa tanpa terkecuali.
“Kami tidak ada toleransi sama sekali pun untuk melanggar atau menurunkan tingkat keselamatan dari para pelanggan, pengguna jasa PT Kereta Api Indonesia, baik itu gendernya laki-laki maupun perempuan,” tegasnya.
Pasca insiden tersebut, PT KAI menyatakan tetap berkomitmen menjaga layanan dan membuka dua posko tanggap darurat di Stasiun Bekasi Timur dan Gambir selama masa pemulihan.
“Baik selama masa pemulihan maupun setelah masa pemulihan ini. Dalam masa pemulihan, kami membuka dua posko tanggap, satu di Stasiun Bekasi Timur dan satu lagi di Gambir selama 14 hari ke depan,” ujar Bobby.***