DUBAI, UEA – Investigasi terbaru yang dirilis BBC mengungkap dugaan keterlibatan Uni Emirat Arab (UEA) dalam konflik berdarah di Sudan. Negara Teluk itu disebut membayar tentara bayaran asal Kolombia untuk membantu kelompok paramiliter Pasukan Dukungan Cepat (Rapid Support Forces/RSF), yang dituduh melakukan pembantaian terhadap ribuan warga sipil.
Laporan tersebut dipublikasikan BBC pada Sabtu, mengutip hasil penyelidikan Conflict Insights Group (CIG), lembaga analisis keamanan yang menelusuri data lokasi telepon seluler para tentara bayaran Kolombia selama berada di Sudan.
Direktur CIG, Justin Lynch, menyebut investigasi itu sebagai bukti paling kuat sejauh ini mengenai hubungan langsung antara Abu Dhabi dan RSF dalam perang saudara Sudan.
“Ini adalah penelitian pertama di mana kami dapat membuktikan keterlibatan UEA dengan pasti,” kata Lynch kepada BBC.
Ia menambahkan, “Kami mempublikasikan apa yang telah lama diketahui pemerintah, bahwa ada hubungan langsung antara Abu Dhabi dan RSF.”
RSF Kuasai Wilayah Strategis Sudan
RSF telah berperang melawan Angkatan Bersenjata Sudan selama beberapa tahun terakhir. Kelompok tersebut kini menguasai sebagian besar wilayah barat daya Sudan, termasuk banyak area di Darfur.
Pada 26 Oktober 2025, RSF dilaporkan merebut Kota El-Fasher, wilayah penting di Darfur Utara. Sejumlah laporan menyebut ribuan warga sipil terbunuh setelah gagal melarikan diri dari kota itu.
Misi pencarian fakta Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menyatakan serangan di El-Fasher menunjukkan “ciri khas genosida”, terutama terhadap komunitas etnis Zaghawa dan Fur.
Selain itu, RSF juga dituduh membunuh lebih dari 200 warga sipil dalam serangkaian serangan terhadap kamp pengungsi dan daerah sekitarnya di El-Fasher.
Tentara Bayaran Kolombia Dilacak ke Abu Dhabi
Dalam investigasi tersebut, CIG melacak lebih dari 50 tentara bayaran Kolombia yang berada di Sudan antara April 2025 hingga Januari 2026.
Mereka disebut lebih dulu ditempatkan di sejumlah titik transit regional, termasuk fasilitas pelatihan militer Emirat di Ghayathi, Abu Dhabi, sebelum diberangkatkan ke Sudan.
Menurut laporan itu, para tentara bayaran beroperasi sebagai pilot drone, penembak artileri, hingga instruktur militer dalam brigade yang dikenal sebagai “Serigala Gurun”.
CIG menyebut mereka direkrut oleh perusahaan berbasis di UEA yang memiliki hubungan dengan pejabat tinggi pemerintahan Emirat.
Lynch menegaskan keberadaan pasukan asing itu berperan penting dalam eskalasi kekerasan di El-Fasher.
“Skala kekejaman dan pengepungan di El-Fasher tidak akan terjadi tanpa operasi drone yang dilakukan oleh tentara bayaran,” ujarnya.
Dugaan Kepentingan Emas dan Laut Merah
Meski UEA membantah mendukung RSF, sejumlah laporan sebelumnya telah menyoroti dugaan keterlibatan negara tersebut di Sudan.
Dukungan itu diduga berkaitan dengan kepentingan ekonomi dan geopolitik, termasuk akses terhadap cadangan emas Sudan, penguasaan jalur pelayaran strategis di Laut Merah, serta pengendalian lahan pertanian.
Konflik Sudan sendiri telah memicu krisis kemanusiaan besar sejak pecahnya perang antara militer Sudan dan RSF. Ribuan orang tewas, jutaan warga mengungsi, dan berbagai wilayah negara itu hancur akibat pertempuran berkepanjangan.