JAKARTA – Maskapai-maskapai asal Tiongkok secara drastis mengurangi layanan penerbangan ke Jepang, dengan pemangkasan kapasitas kursi dan frekuensi penerbangan yang menembus angka lebih dari 60 persen untuk periode Februari hingga Maret 2026.
Data pemantauan AeroRoutes menunjukkan jumlah penerbangan pada Februari 2026 merosot tajam dari sebelumnya 4.508 penerbangan menjadi hanya 1.783 penerbangan.
Penurunan tersebut diikuti penyusutan kapasitas kursi yang signifikan, dari 860.947 kursi menjadi 370.146 kursi dalam satu bulan.
Situasi serupa juga terjadi pada Maret 2026, ketika lebih dari 63 persen jadwal penerbangan dibatalkan dan sekitar 60 persen kapasitas kursi dihapus dari perencanaan operasional.
Dampak langsung dirasakan perusahaan manufaktur yang beroperasi di kawasan Kansai dan Tokai karena kesulitan memperoleh kursi bagi teknisi vital.
Kondisi ini memaksa sejumlah perusahaan memilih jalur tidak langsung melalui Seoul atau Taipei demi menjaga kelangsungan aktivitas produksi.
Sektor logistik turut terdampak karena berkurangnya ruang kargo di badan pesawat penumpang pada saat permintaan pengiriman semikonduktor meningkat usai libur Tahun Baru.
Pengamat penerbangan menilai penurunan tajam ini membuat skala pasar penerbangan Tiongkok–Jepang kembali mendekati level awal pandemi.
Sebagai perbandingan, pada Februari 2020 masih tercatat 2.457 penerbangan satu arah, jumlah yang lebih tinggi dibandingkan jadwal yang tersedia untuk Februari 2026.
Arah pemulihan selanjutnya sangat bergantung pada situasi keamanan di Jepang serta persepsi konsumen terhadap perjalanan lintas negara.
Jika kondisi tidak menunjukkan perbaikan hingga April 2026, maskapai diperkirakan akan mengalihkan armada ke rute Asia Tenggara yang saat ini mencatat lonjakan permintaan.***