Pasir berhamburan ke segala arah saat Kyle Goetsch berlari kencang membelah kesunyian Gurun Namib. Langkahnya hanya terhenti sejenak ketika ia berteriak kepada rombongan di belakangnya yang masih terpaku untuk segera ikut berlari. Di kejauhan, sesosok makhluk raksasa mendekat, siluet tubuh kolosalnya terpampang jelas di bawah pucatnya sinar rembulan.
Namun, ini bukanlah adegan puncak dari film horor alam garapan Hollywood. Meski kamera berada di mana-mana, kenyataannya jauh lebih artistik: seorang fotografer alam sedang bertaruh nyawa dan waktu demi mendapatkan bidikan paling prestisius dalam hidupnya.
Keajaiban yang Dikira Rekayasa Digital
Hasil bidikan Goetsch memang luar biasa. Seekor jerapah berdiri gagah di puncak bukit pasir, menatap lurus ke arah lensa tepat di tengah lingkaran bulan merah muda yang pudar. Foto ini begitu sempurna hingga banyak yang meragukan keasliannya.
“Ini adalah salah satu foto yang paling sering dituduh sebagai hasil AI (Kecerdasan Buatan),” ungkap Goetsch kepada CNN. “Saya menganggapnya sebagai pujian, karena itu menunjukkan betapa uniknya gambar tersebut. Sangat jarang elemen-elemen alam bisa selaras sesempurna itu.”
Rencana yang Berantakan Menjadi Berkah
Meskipun AI sama sekali tidak terlibat, faktor keberuntungan memainkan peran besar. Goetsch, fotografer asal Cape Town yang sering mengadakan lokakarya di Afrika bagian selatan, awalnya membawa klien ke gurun tertua di dunia ini hanya untuk memotret bulan purnama yang terbit di atas pohon tua.
Namun, saat persiapan, rencana itu mendadak buyar. Goetsch menoleh dan melihat raksasa berleher panjang—kemungkinan penasaran dengan suara manusia—sedang berjalan santai menuju kelompok mereka.
Aksi Kejar-kejaran dengan Bulan
Sadar bahwa jerapah itu akan melintas tepat di depan posisi bulan yang masih rendah, Goetsch segera menyambar kamera dan tripodnya. Ia berlari secepat kilat untuk mencari posisi sudut pandang yang tepat sebelum momen emas itu hilang.
“Waktunya sangat sempit untuk menangkap apa yang ada di pikiran saya. Saya tahu ini akan menjadi gambar yang luar biasa, dan ternyata benar,” kenangnya.
Begitu posisi jerapah, bulan, dan bukit pasir sejajar sempurna dalam bidikannya, Goetsch tahu ia telah mencetak sejarah. “Begitu saya mengambil foto-foto pertama itu, saya tahu saya sudah mendapatkannya… Kita harus berani mengambil kesempatan saat momen itu datang.”