Menjelang peluncuran akbar seri Galaxy S26, Samsung Electronics justru terjebak dalam pusaran kritik tajam. Alih-alih memukau publik dengan kecanggihan sensor kameranya, raksasa teknologi asal Korea Selatan ini kedapatan menggunakan AI generatif—bukan hasil rekaman asli perangkat—untuk mempromosikan kemampuan video low-light ponsel flagship terbarunya.
Kejanggalan yang Terendus Netizen
Kontroversi ini bermula dari klip promosi singkat yang diunggah di kanal YouTube dan akun X resmi Samsung pada 12 Februari 2026. Video tersebut menampilkan dua skateboarder yang meluncur di jalanan kota yang remang-remang, dimaksudkan untuk pamer fitur “Nightography” Galaxy S26. Samsung bahkan menyematkan caption menantang: “No spotlight needed. Can your phone do that?“
Namun, penonton bermata jeli dengan cepat menemukan kejanggalan. Tekstur bangunan yang terlihat buram, bayangan yang tidak konsisten, hingga objek tas belanja yang tampak “cacat” khas artefak AI menjadi bukti kuat. Samsung Magazine EU bahkan melontarkan kritik pedas dengan menyebut iklan ini sebagai “farce” (lelucon/sandiwara) AI yang menyedihkan.
Transparansi yang Merusak Kepercayaan
Meski Samsung menyertakan catatan kecil bahwa konten tersebut dibuat “dengan bantuan alat AI”, hal ini dianggap gagal menjawab esensi pemasaran sebuah ponsel: pembuktian performa nyata.
Kritikus berpendapat bahwa menggunakan video buatan AI untuk menjual kemampuan kamera tidak ada bedanya dengan menerbitkan video CGI (animasi komputer) yang sepenuhnya palsu. Calon pembeli ingin melihat peningkatan perangkat keras yang mereka bayar mahal, bukan hasil olahan algoritma yang diklaim sebagai kemampuan kamera.
Ini bukan kali pertama Samsung tersandung masalah serupa. Pada 2023, Samsung pernah dikritik habis-habisan karena fitur “Space Zoom” miliknya diduga menambahkan detail buatan pada foto bulan. Rentetan kejadian ini membuat otoritas pengawas iklan di berbagai negara, termasuk AS dan Inggris, kini lebih ketat memantau penggunaan media sintetis yang dianggap menyesatkan konsumen.
Ujian Berat Menjelang Galaxy Unpacked
Padahal, seri Galaxy S26 yang dijadwalkan meluncur pada 25 Februari di San Francisco ini digadang-gadang membawa perubahan besar, mulai dari aperture lensa yang lebih lebar hingga layar privasi generasi terbaru.
Namun, pilihan Samsung untuk menggunakan “jalan pintas” AI dalam pemasarannya justru mengalihkan fokus publik. Alih-alih membicarakan revolusi teknologi, dunia kini justru mempertanyakan satu hal: Seberapa jauh konsumen bisa mempercayai klaim Samsung di masa depan?