WASHINGTON, AS – Amerika Serikat tengah memindahkan ratusan personel militer dari berbagai pangkalan di Timur Tengah, menyusul kekhawatiran atas potensi serangan dari Iran jika konflik memanas. Langkah ini dilakukan sebagai strategi pencegahan, karena pangkalan-pangkalan tersebut berisiko tinggi menjadi target utama.
Berdasarkan laporan The New York Times yang mengutip pejabat Pentagon, evakuasi melibatkan relokasi tentara dari Pangkalan Udara Al Udeid di Qatar. Pemindahan serupa juga berlangsung di fasilitas AS di Bahrain, rumah bagi Armada Kelima Angkatan Laut AS, serta di Irak, Suriah, Kuwait, Arab Saudi, Yordania, dan Uni Emirat Arab. Meski demikian, lokasi baru para pasukan ini tidak diungkap secara resmi.
Pejabat AS menilai sekitar 30.000 hingga 40.000 personel yang ditempatkan di kawasan itu rentan menjadi target prioritas Republik Islam Iran. Situasi ini berbeda dari serangan terhadap Al Udeid pada Juni 2025, ketika Iran memberi pemberitahuan terlebih dahulu kepada AS. Kekhawatiran meningkat setelah Misi Iran di PBB menyampaikan peringatan tegas melalui surat kepada Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres: “Jika terjadi serangan Amerika, semua pangkalan, fasilitas, dan aset pasukan musuh di wilayah tersebut akan menjadi target yang sah.”
Analis militer menyoroti bahwa AS memperkuat pertahanan dengan memindahkan sistem anti-udara ke Timur Tengah untuk melindungi aset dan pasukannya dari ancaman Iran. Katherine Thompson, ahli dari Cato Institute, menekankan bahwa perpindahan aset ini menunjukkan persiapan untuk konflik berkepanjangan, melebihi perang singkat 12 hari sebelumnya. “Kemampuan Amerika Serikat untuk mempertahankan pertahanan pasukannya dan pangkalan-pangkalan di wilayah tersebut dalam jangka panjang, sambil juga mendukung pertahanan Israel, merupakan kekhawatiran utama,” ujarnya, dikutip Jerusalem Post pada Minggu (22/2/2026).
Selain itu, AS memilih menjaga dua kapal induknya di posisi lebih aman, relatif jauh dari wilayah Iran, untuk mengurangi risiko serangan langsung. Meski begitu, pemerintahan Presiden Donald Trump tetap menekankan upaya diplomasi sebagai jalan keluar dari ketegangan dengan Iran.
Namun, sejumlah pejabat AS meragukan keseriusan proposal dari Teheran. Laporan Reuters menyebut Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menolak membuka amplop berisi usulan AS terkait program rudal selama negosiasi di Oman. Reuters juga mengungkap bahwa rencana serangan potensial terhadap Iran bisa mencakup pembidikan individu hingga upaya penggantian rezim di Teheran, jika Trump memerintahkannya. Pengungkapan ini mencerminkan perencanaan yang lebih matang, seiring pernyataan terbuka Trump baru-baru ini tentang ide perubahan rezim di Iran.