JAKARTA – Kapal perang TNI Angkatan Laut (TNI AL) KRI Silas Papare-386 berhasil menggagalkan upaya penyelundupan bahan bakar minyak (BBM) jenis solar ilegal di perairan Natuna, Selasa (24/2/2026). Keberhasilan ini menegaskan komitmen TNI AL dalam menjaga kedaulatan maritim dan memberantas berbagai pelanggaran hukum di laut Indonesia.
Unsur KRI Silas Papare-386 dari Gugus Tempur Laut (Guspurla) Koarmada I menghentikan dan memeriksa KM Bintang Sejahtera 10 yang berlayar dari Muara Angke, Jakarta Utara, menuju perairan Natuna. Kapal tersebut diawaki 14 orang anak buah kapal (ABK).
Hasil pemeriksaan mendapati muatan utama berupa sekitar 500 kilogram cumi-cumi. Namun, petugas menemukan sekitar 40 ton solar yang disimpan di palka tanpa dokumen resmi, sehingga diduga ilegal. Penemuan ini menambah daftar kasus penyelundupan BBM yang merugikan negara.
Selain itu, tim pemeriksa juga mengamankan barang bukti indikasi penyalahgunaan narkotika dan kepemilikan senjata api tiruan. Barang-barang tersebut meliputi 12 bungkus pil yang diduga pil anjing (8 bungkus tersegel dan 4 bungkus kosong), 2 kaplet Tramadol (1 tersegel dan 1 telah digunakan), 1 buah bong alat isap, 2 buah korek api, 1 pucuk airsoft gun jenis pistol tanpa surat izin resmi, serta 1 kantong gotri berbahan plastik.
Dari pengembangan awal, enam ABK mengakui telah mengonsumsi narkotika jenis sabu selama perjalanan dari Jakarta ke Natuna.
KRI Silas Papare-386 langsung mengawal KM Bintang Sejahtera 10 ke Pangkalan TNI Angkatan Laut (Lanal) Ranai untuk penyelidikan mendalam terhadap kapal, nahkoda, dan seluruh ABK. Proses hukum akan dilakukan secara profesional dan transparan sesuai ketentuan perundang-undangan.
Aksi ini sejalan dengan arahan Kepala Staf Angkatan Laut (KSAL) Laksamana TNI Muhammad Ali yang menekankan pentingnya meningkatkan kewaspadaan, memperkuat patroli laut, serta bertindak tegas terhadap segala bentuk pelanggaran di wilayah perairan Indonesia. Langkah ini bertujuan menjaga kedaulatan negara serta keamanan maritim nasional dari ancaman penyelundupan dan kejahatan lintas batas.
Operasi semacam ini semakin krusial mengingat perairan Natuna sebagai kawasan strategis yang rawan berbagai aktivitas ilegal, mulai dari penyelundupan BBM hingga perdagangan narkotika. TNI AL terus mengintensifkan pengawasan untuk melindungi sumber daya alam dan kepentingan ekonomi bangsa.