JAKARTA – Mikroplastik kini menjadi salah satu ancaman lingkungan paling serius di seluruh dunia. Partikel-partikel plastik berukuran sangat kecil ini (kurang dari 5 mm) tidak hanya mencemari lautan, tetapi juga sungai, danau, air tanah, bahkan air minum serta hujan. Mikroplastik terbentuk dari degradasi sampah plastik besar maupun serat sintetis dari pakaian, kosmetik, dan berbagai produk sehari-hari. Karena ukurannya yang sangat kecil, mikroplastik sangat sulit dihapus melalui proses pengolahan air konvensional.
Mengapa Mikroplastik Jadi Masalah?
Partikel mikroplastik dapat bertahan di lingkungan dalam waktu yang sangat lama dan menyebar luas. Mereka telah terdeteksi dalam berbagai jenis air yang kita konsumsi, dari air permukaan hingga air minum kemasan. Beberapa studi bahkan menemukan mikroplastik dalam jaringan tubuh manusia, termasuk darah dan paru-paru, yang menimbulkan kekhawatiran tentang dampaknya pada kesehatan jangka panjang.
Selain itu, mikroplastik juga berperan sebagai vektor yang membawa polutan lain, seperti bahan kimia berbahaya atau logam berat, sehingga meningkatkan risiko bagi organisme air dan manusia yang mengonsumsi makanan laut atau air yang terkontaminasi.
Pengolahan air limbah saat ini sebagian besar menggunakan polimer sintetis, seperti poliakrilamida, untuk membantu menggumpalkan bahan pencemar termasuk mikroplastik agar mudah diambil. Sayangnya, bahan-bahan ini bersifat non-biodegradable dan kadang dapat menimbulkan efek samping pada ekosistem dan kualitas air itu sendiri.
Solusi Alami: Okra dalam Fokus Penelitian
Dalam upaya mencari alternatif yang lebih ramah lingkungan, para ilmuwan mulai mengeksplorasi penggunaan bahan alami untuk membantu mengatasi polusi mikroplastik. Salah satu temuan paling menjanjikan datang dari tarleton State University, Texas, Amerika Serikat. Penelitian yang dipublikasikan dalam ACS Omega ini menemukan bahwa ekstrak tanaman tertentu ternyata mampu menjebak dan mengeluarkan partikel mikroplastik dari air secara efektif.
anaman yang dimaksud adalah okra (Abelmoschus esculentus) dan fenugreek (Trigonella foenum-graecum). Bahan dasar dari ekstrak ini bukanlah bagian keras tanaman, melainkan zat lengket alami berupa polisakarida sejenis molekul kompleks yang larut dalam air dan terbentuk dari senyawa organik tanaman.
Para peneliti mengolah ekstrak ini ke dalam bentuk bubuk dan memasukkannya ke dalam air yang mengandung mikroplastik. Dalam kondisi laboratorium, ekstrak okra dan fenugreek bekerja dengan menarik partikel mikroplastik, menyebabkan partikel-partikel tersebut menggumpal dan akhirnya mengendap. Dengan cara ini, mikroplastik lebih mudah dipisahkan dari air.
Seberapa Efektif Okra?
Menurut hasil penelitian, ekstrak okra dan fenugreek menunjukkan tingkat penghilangan mikroplastik yang mengesankan:
-
Okra sendiri mampu menangkap dan mengendapkan sebagian besar mikroplastik khususnya di air laut dan sumber air tertentu.
-
Fenugreek tampil lebih efektif dalam air tanah, dengan efisiensi mencapai hingga 90% penghilangan mikroplastik dalam penelitian beberapa sampel air.
-
Kombinasi okra dan fenugreek juga menunjukkan hasil yang kuat di air tawar, mencapai lebih dari 70% efisiensi hanya dalam hitungan puluhan menit.
Hasil ini bahkan menunjukkan bahwa ekstrak tanaman tersebut bekerja lebih baik atau setidaknya seefektif polimer sintetis yang biasanya digunakan dalam pengolahan air, namun tanpa dampak toksik tambahan terhadap lingkungan.
Arti Temuan Ini bagi Masa Depan
Penemuan efektivitas okra dan fenugreek sebagai bahan penyaring mikroplastik menjadi sebuah angin segar dalam upaya menjaga kualitas air dan lingkungan. Bahan alami seperti ini memiliki beberapa keunggulan:
-
Biodegradable dan tidak menambah polusi kimia baru.
-
Dapat berasal dari sumber lokal dan terbarukan, yang memungkinkan penerapan di banyak negara berkembang.
-
Potensi integrasi dengan metode pengolahan air yang sudah ada, tanpa membutuhkan modifikasi mesin besar.
Meski demikian, penelitian ini masih berada pada tahap awal dan terutama dilakukan di laboratorium. Untuk dapat diterapkan secara luas pada sistem pengolahan air minum atau industri, diperlukan uji lebih lanjut, termasuk studi lapangan besar dan pengembangan teknologi yang bisa konsisten menghasilkan ekstrak dalam jumlah besar.
Ancaman mikroplastik terhadap kesehatan manusia dan lingkungan semakin nyata seiring dengan meningkatnya polusi plastik di berbagai ekosistem air di seluruh dunia. Tantangan utama adalah mencari metode yang efektif, terjangkau, dan ramah lingkungan untuk mengurangi partikel-partikel kecil ini dari air yang kita konsumsi dan gunakan.
Penelitian tentang penggunaan okra sebagai solusi berbasis tanaman menunjukkan potensi besar untuk memberikan alternatif alami dalam mengatasi permasalahan tersebut. Jika dikembangkan lebih lanjut, pendekatan ini bisa menjadi langkah penting dalam upaya global menjaga sumber daya air dari ancaman mikroplastik masa depan.