Jagat maya kembali dihebohkan oleh aksi tidak terpuji seorang pembuat konten. Seorang influencer mendadak panen hujatan setelah nekat melakukan ‘cosplay’ atau memparodikan fisik penyandang disabilitas. Ironisnya, video yang memicu kontroversi tersebut bukan sekadar hiburan biasa, melainkan konten komersial untuk mempromosikan produk kecantikan dari merek ternama.
Langkah sang influencer dinilai telah kelewat batas. Netizen mengkritik keras tindakan tersebut karena dianggap tidak etis, mengeksploitasi kondisi fisik seseorang demi personal branding, serta menormalisasi diskriminasi.
“Mungkin pengen ngerasain jadi disabilitas,” sindir salah satu netizen di kolom komentar.
“Dan yang endorse dia juga pada stres. Kok bisa marketing ke KOL (Key Opinion Leader) yang kontennya bullying dan diskriminasi buat teman-teman disabilitas? Nggak waras,” timpal netizen lainnya yang menyayangkan sikap brand pengiklan.
Meskipun pemilik akun tersebut belakangan telah mengunggah video permintaan maaf dan berjanji tidak akan mengulangi perbuatannya, nasi telah menjadi bubur. Gelombang kritik kadung meluas.
Bahaya Laten Ableism dan Dampak Psikologis yang Nyata
Fenomena ini menarik perhatian dr. Adam Prabata, seorang dokter yang aktif mengedukasi masyarakat lewat media sosial. Menurut dr. Adam, candaan yang menjadikan keterbatasan fisik sebagai objek komedi bukan sekadar masalah “baper” atau sensitivitas belaka, melainkan sebuah ancaman nyata bagi kesehatan mental kelompok disabilitas.
“Konten seperti ini bisa memperkuat stigma sosial yang sudah lama dihadapi teman-teman disabilitas,” ujar dr. Adam kepada detikcom pada Kamis (4/6/2026).
Ia menjelaskan bahwa fenomena ini berakar dari konsep ableism. Apa itu? Ableism adalah bentuk prasangka atau diskriminasi terhadap penyandang disabilitas, di mana masyarakat menganggap kondisi fisik atau mental tertentu yang ‘sempurna’ memiliki nilai lebih tinggi dibandingkan kondisi disabilitas.
Berdasarkan kajian dari National Institutes of Health (NIH), ableism sangat berbahaya justru karena sering dianggap sebagai hal yang lumrah atau common sense di masyarakat. Di dunia medis, cara pandang keliru ini kerap membuat penyandang disabilitas dianggap memiliki kualitas hidup yang rendah hanya karena mereka membutuhkan alat bantu seperti kursi roda, ventilator, atau selang makanan.
Hal ini diperkuat oleh sebuah penelitian tahun 2024 di Journal of Media Psychology. Studi tersebut menegaskan bahwa sekecil apa pun klaim “hanya bercanda” yang dilemparkan oleh pembuat konten, efek psikologis yang diterima oleh kelompok yang dijadikan bahan olokan tetaplah nyata dan menyakitkan.
“Cukup, semoga tidak ada lagi humor-humor seperti ini,” tegas dr. Adam.
Kasus viral ini menjadi tamparan keras sekaligus pengingat penting bagi publik. Keterbatasan fisik dan mental seseorang bukanlah komoditas hiburan ataupun bahan jualan. Edukasi mengenai ableism harus terus digaungkan agar ruang digital bisa menjadi tempat yang inklusif, aman, dan menghargai martabat sesama manusia.