JAKARTA – Pemimpin Hizbullah, Naim Qassem, pada 4 Juni menolak kesepakatan gencatan senjata bersyarat yang diumumkan oleh utusan Lebanon dan Israel.
Ia menuntut gencatan senjata komprehensif serta penarikan penuh pasukan Israel, sembari mengancam pemukiman di Israel utara dengan serangan baru.
Pesan Qassem muncul setelah perwakilan Lebanon dan Israel di Washington menyepakati gencatan senjata bersyarat yang disebut Presiden Lebanon Joseph Aoun sebagai “kesempatan terakhir” untuk mengakhiri konflik. Namun, Hizbullah menilai penarikan pasukan mereka akan sama dengan “menyerah dan kekalahan”.
Konflik ini bermula ketika Hizbullah menyerang Israel pada 2 Maret, sebagai balasan atas pembunuhan pemimpin tertinggi Iran pada 28 Februari. Sejak itu, gencatan senjata yang diumumkan 17 April terus dilanggar, dengan pasukan Israel tetap berada jauh di dalam wilayah Lebanon dan militan yang didukung Iran melancarkan serangan ke Israel.
“Gencatan senjata harus komprehensif… tanpa memberi musuh Israel kebebasan untuk membunuh,” tegas Qassem, menolak pembicaraan langsung dengan Israel, dilansir Hurriyet Daily News, Jumat (5/6/2026). Ia menambahkan, “Selama desa-desa kami tidak aman — dibom, dihancurkan, dan orang-orang kami dibunuh — maka pemukiman (Israel utara) juga tidak aman.”
Pidato tersebut disampaikan setelah Menteri Pertahanan Israel, Israel Katz, mengancam akan melanjutkan operasi darat dan tembak-menembak, serta membuka kemungkinan serangan ke Beirut dengan dukungan Amerika.
Situasi di lapangan semakin memanas. Pasukan UNIFIL melaporkan seorang penjaga perdamaian asal Serbia tewas dan dua lainnya terluka akibat serangan di Lebanon selatan. Sejak perang pecah Maret lalu, tujuh anggota pasukan penjaga perdamaian PBB telah tewas. Sekjen PBB Antonio Guterres mengutuk insiden tersebut dan menyerukan penyelidikan.
Kementerian Kesehatan Lebanon melaporkan delapan korban jiwa akibat serangan Israel pada 4 Juni, termasuk lima orang di Lebanon timur dan tiga di dekat Tyre. Militer Israel juga mengumumkan seorang tentaranya tewas akibat rudal Hizbullah, menambah jumlah korban di pihak Israel menjadi 27 tentara dan satu kontraktor sipil.
Israel memperingatkan warga Lebanon agar tidak menyeberangi Sungai Zahrani, yang kini dinyatakan sebagai “zona pertempuran”. Sementara itu, sirene serangan udara kembali berbunyi di Israel utara, dengan beberapa insiden dikonfirmasi sebagai alarm palsu.