Teka-teki keberadaan Femas Yani Arianto (22), pemuda asal Madiun yang nekat kabur dari rombongan tur wisata di Korea Selatan, mulai menemui titik terang. Femas yang kini berstatus imigran gelap (overstay) sempat terdeteksi bersembunyi di area Masjid Islam Korean Ansan.
Meski koordinatnya sudah dikantongi, otoritas imigrasi Korea Selatan belum bisa mengeksekusi penangkapan karena terbentur aturan hukum setempat yang melindungi kesucian tempat ibadah.
“Info dari WNI di sana… Immigration Office tidak bisa menggerebek yang bersangkutan di dalam masjid tersebut. Intinya, dia baru bisa ditangkap pada saat melangkah keluar dari area masjid,” ungkap CEO Berani Backpacker, Fariz Ragil Ramadhani (Dhani), Senin (20/7/2026).
Laporan terbaru menyebut Femas kini sudah bergeser, namun pemetaan agen travel meyakini pemuda tersebut masih berkeliaran di sekitar kawasan Ansan.
Agen Travel Gelar Sayembara Hadiah Tiket Liburan Gratis
Geram dengan aksi nekat Femas, pihak agensi travel Berani Backpacker tidak tinggal diam. Mereka resmi menggelar sayembara khusus bagi para WNI di Korea Selatan. Siapa saja yang berhasil menemukan dan memulangkan Femas akan dihadiahi paket liburan gratis ke Singapura dan Malaysia.
Langkah ekstrem ini diambil karena dampak domino dari kaburnya Femas dinilai sangat merusak dan egois. Tour leader dan seluruh peserta tur yang berada dalam satu grup dengan Femas terancam sulit mendapatkan persetujuan (approve) visa Korea Selatan di masa depan.
Tindakan melanggar hukum ini mencederai kepercayaan diplomatik dan berpotensi mempersulit warga negara Indonesia lainnya yang ingin bepergian ke luar negeri secara sah.
Tragis! Ibu di Madiun Syok Ditagih Ganti Rugi Rp50 Juta
Di saat Femas asyik bersembunyi di Korea Selatan, sang ibu, MT (56), justru harus menanggung beban berat di kampung halamannya di Kecamatan Wungu, Madiun. Sebagai imbas dari kaburnya sang anak, janda yang ditinggal wafat suaminya sejak 2018 ini mendadak didatangi pihak agen travel dan ditagih ganti rugi sebesar Rp50 juta.
Bagi MT yang hanya bekerja serabutan, angka tersebut seperti petir di siang bolong.
“Saya uang dari mana dimintai uang sebanyak itu? Bisa buat makan sehari-hari saja alhamdulillah. Saya kerja serabutan, bersihkan rumah orang cuma digaji Rp60 ribu sehari. Pabrik porang tempat saya kerja musiman juga sudah tutup,” ratap MT terpukul.
Ulah impulsif Femas kini menyisakan luka mendalam. Di satu sisi ia menjadi buruan otoritas di Negeri Ginseng, di sisi lain ibu kandungnya harus menangis karena menanggung utang puluhan juta akibat perbuatannya.