JAKARTA – Krisis perbatasan Pakistan-Afghanistan kembali memanas setelah serangan udara Pakistan ke wilayah timur Afghanistan memicu polemik korban sipil dan memperuncing sengketa garis batas sepanjang 2.611 kilometer.
Serangan udara Pakistan yang diklaim menargetkan kamp Tehrik-i-Taliban Pakistan (TTP) dan ISIS-K disebut sebagai respons atas gelombang teror berdarah di dalam negeri, namun memunculkan laporan kematian warga sipil yang memperkeruh situasi keamanan kawasan.
Penutupan Perlintasan Torkham sejak Oktober 2025 kian memperdalam krisis perbatasan Pakistan-Afghanistan, mempertegas bahwa garis batas yang tak pernah diakui secara resmi oleh Afghanistan tetap menjadi sumber konflik laten kedua negara.
Operasi militer lintas batas yang dilakukan Islamabad pada 22 Februari menargetkan tujuh lokasi yang disebut sebagai basis militan di Afghanistan timur dan diklaim menewaskan sedikitnya 70 anggota kelompok bersenjata.
Mengutip laporan CNN, pemerintah Pakistan menyatakan serangan tersebut menyasar jaringan Tehrik-i-Taliban Pakistan dan afiliasi ISIS-K yang dituding berada di balik eskalasi teror di wilayahnya.
Namun, Misi PBB di Afghanistan melaporkan memiliki “laporan kredibel” mengenai sedikitnya 13 korban jiwa warga sipil di Provinsi Nangarhar, termasuk perempuan dan anak-anak.
Perbedaan klaim mengenai jumlah dan identitas korban memperuncing perdebatan internasional terkait proporsionalitas dan dampak kemanusiaan dari serangan tersebut.
Langkah ofensif Pakistan itu terjadi setelah rentetan aksi teror mengguncang wilayahnya sendiri, termasuk bom bunuh diri di sebuah masjid Syiah di Islamabad yang menewaskan puluhan orang dan memicu duka nasional.
Serangan terpisah terhadap pos pemeriksaan keamanan di Bajaur juga menewaskan 11 personel militer, mempertegas tekanan keamanan yang dihadapi Islamabad dalam beberapa bulan terakhir.
Rangkaian kekerasan tersebut memperlihatkan pola serangan terkoordinasi yang meningkatkan kekhawatiran akan bangkitnya kembali jaringan militan lintas batas.
Di sisi lain, Perlintasan Torkham Crossing masih ditutup sejak Oktober 2025, memukul aktivitas perdagangan, mobilitas warga, serta distribusi logistik kemanusiaan di kawasan tersebut.
Garis perbatasan sepanjang 2.611 kilometer yang membentang antara Pakistan dan Afghanistan sejak lama menjadi titik sengketa karena tidak pernah diakui secara resmi oleh Kabul.
Situasi ini menjadikan kawasan perbatasan sebagai zona rapuh yang kerap berubah menjadi titik api setiap kali ketegangan keamanan meningkat.
Dengan kombinasi aksi teror, serangan balasan militer, laporan korban sipil, dan kebuntuan diplomatik, krisis perbatasan Pakistan-Afghanistan kini berada pada fase paling sensitif dalam beberapa tahun terakhir.
Ketidakpastian ini menimbulkan pertanyaan besar mengenai stabilitas regional dan efektivitas pendekatan keamanan keras dalam meredam ancaman militan lintas negara.***