Dunia sedang menghadapi guncangan hebat di sektor nutrisi bayi. Krisis kontaminasi susu formula yang awalnya bersifat lokal kini meluas secara eksponensial ke lebih dari 60 negara. Dua merek raksasa, Aptamil dan Bebelac, terpaksa ditarik dari peredaran setelah ditemukan potensi kontaminasi cereulide—toksin berbahaya yang dihasilkan oleh bakteri Bacillus cereus.
Pada 27 Februari 2026, otoritas kesehatan dari Arab Saudi hingga Nigeria mengeluarkan peringatan darurat sebagai langkah pencegahan. Krisis ini pun memuncak ketika Prancis melaporkan kasus pertama bayi yang dinyatakan positif terpapar racun tersebut setelah mengonsumsi formula buatan Danone.
Jejak Racun: Dari Wuhan ke Meja Makan
Investigasi mendalam berhasil melacak sumber petaka ini. Kontaminasi berasal dari minyak asam arakidonat (ARA), bahan asam lemak krusial yang dipasok oleh perusahaan Tiongkok, Cabio Biotech, yang berbasis di Wuhan.
Minyak terkontaminasi tersebut ternyata tidak hanya merembet ke produk Danone, tetapi juga menyusup ke rantai produksi raksasa lain seperti Nestlé dan Lactalis.
Akibatnya, Kejaksaan Paris kini resmi membuka penyelidikan terhadap lima perusahaan besar atas tuduhan “salah representasi barang yang mengancam kesehatan manusia”. Penyelidik juga tengah menelusuri kaitan ilmiah antara susu tersebut dengan kematian tiga bayi di Prancis.
Respons Tegas Uni Eropa
Merespons ancaman ini, Uni Eropa sejak 25 Februari 2026 memberlakukan kontrol perbatasan super ketat. Kini, setiap kiriman minyak ARA dari Tiongkok wajib melalui pemeriksaan fisik sebesar 50% dan harus disertai sertifikat resmi bebas cereulide. Di Belgia saja, delapan bayi dilaporkan telah menunjukkan gejala ringan setelah dinyatakan positif terpapar racun tersebut.
“Ambisi kami adalah merebut kembali kepercayaan dan kredibilitas, karena hal ini sangat vital dalam kategori produk bayi,” tegas Juergen Esser, CFO Danone.
Dampak Finansial yang Masif
Secara ekonomi, skandal ini memukul margin perusahaan. Danone memperkirakan kerugian pada kuartal pertama 2026 mencapai €35 juta hingga €70 juta (sekitar Rp590 miliar hingga Rp1,1 triliun). Meski demikian, perusahaan optimis situasi akan kembali normal pada Maret 2026 di pasar Eropa dan Timur Tengah.
Krisis ini menjadi pengingat keras bagi industri global akan betapa rentannya rantai pasokan bahan baku makanan bayi terhadap kontaminasi bakteri yang bisa berujung pada konsekuensi hukum dan nyawa.