JAKARTA – Rencana Israel untuk menguasai wilayah kekuasaannya di Gaza hingga 70% menimbulkan kekhawatiran besar di kalangan warga Palestina. Mereka yang tinggal di dekat “garis kuning” – batas pemisah antara zona kendali militer Israel dan wilayah sipil – menyebut ruang hidup semakin menyempit dan tak layak huni.
Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu pekan lalu mengakui bahwa tentara Israel telah menguasai sekitar 60% Gaza dan berencana memperluasnya menjadi 70%. Sejak Oktober 2025, blok beton berwarna kuning ditempatkan di sepanjang garis tersebut sebagai penanda wilayah.
“Tidak ada tempat lagi untuk pergi,” kata Abdullah al-Astal, warga Khan Younis, dilansir Anadolu, Jumat (5/6/2026). Ia menuturkan tank dan buldoser Israel rutin merobohkan rumah-rumah, sementara tembakan dari kendaraan militer dan drone hampir tak pernah berhenti. “Kapan saja, kita bisa terkena serangan atau terbunuh,” ujarnya.
Kekhawatiran serupa disampaikan Hamdi Malaka dari Gaza City. “Jika mereka ingin menduduki seluruh Gaza, mereka harus mengatakannya dengan jelas, bukannya hanya berbicara tentang garis kuning dan merah,” katanya.
Ratusan ribu warga Palestina kini terjebak di daerah pengungsian padat dengan krisis pangan, air, dan layanan kesehatan. Warga memperingatkan bahwa perluasan garis kuning akan memicu gelombang pengungsian baru dan menambah tekanan pada infrastruktur Gaza yang sudah runtuh.
Data Palestina menyebut sejak Oktober 2023, serangan Israel telah menewaskan hampir 73.000 orang dan melukai lebih dari 173.000, mayoritas perempuan dan anak-anak. Meski gencatan senjata berlaku sejak 10 Oktober 2025, Kementerian Kesehatan Gaza mencatat 947 warga tewas dan 2.935 lainnya terluka akibat serangan harian.