JAKARTA – Mantan Wakil Presiden Republik Indonesia, Jusuf Kalla, memperingatkan bahwa konflik antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran berpotensi menimbulkan dampak ekonomi serius bagi Indonesia. Menurutnya, eskalasi ketegangan di Timur Tengah dapat memicu kenaikan harga minyak dunia serta mengganggu rantai pasok global, yang pada akhirnya menekan perekonomian nasional dalam waktu singkat.
Dalam pernyataannya, Jusuf Kalla menekankan bahwa Indonesia sebagai negara pengimpor minyak dari kawasan Timur Tengah harus meningkatkan kewaspadaan terhadap risiko tersebut.
“Dampak ekonomi dari perang tentu ada. Pertama, harga minyak pasti naik. Kedua, logistik antara Timur Tengah dan kawasan lain bisa terputus,” ujar Jusuf Kalla.
Ribuan WNI di Luar Negeri Terancam Terdampak
Salah satu dampak langsung yang dikhawatirkan adalah kesulitan bagi warga Indonesia yang berada di luar negeri. Jusuf Kalla menyebut ratusan ribu orang, termasuk yang sedang menjalankan ibadah umrah, berpotensi mengalami hambatan untuk kembali ke tanah air akibat kemungkinan penutupan rute penerbangan dan transportasi.
Selain itu, ekspor Indonesia ke pasar Eropa juga berisiko terganggu. “Ratusan ribu warga Indonesia yang berada di luar negeri, misalnya untuk umrah, bisa terdampak dan sulit kembali dalam waktu dekat. Ekspor kita ke Eropa juga berpotensi terganggu karena munculnya ketakutan global,” tambahnya.
Menurutnya, ketakutan global dapat memicu penurunan permintaan dan hambatan logistik internasional, yang pada akhirnya memperlambat pertumbuhan ekonomi Indonesia yang masih bergantung pada perdagangan luar negeri.
Ketergantungan Impor Minyak dari Timur Tengah Jadi Ancaman
Indonesia masih mengandalkan impor minyak dari negara-negara Timur Tengah untuk memenuhi kebutuhan domestik karena produksi dalam negeri belum mencukupi. Jusuf Kalla menilai, apabila pasokan tersebut terhenti akibat perang, dampaknya akan langsung terasa pada sektor energi dan industri.
“Kita biasanya mengimpor minyak dari Timur Tengah karena kita kekurangan produksi dalam negeri. Jika pasokan itu terhenti, ekonomi kita akan terdampak,” katanya.
Ia juga menekankan pentingnya kewaspadaan jangka panjang. “Kita harus berhati-hati. Jika situasi ini berlangsung lama, dampaknya akan terasa. Sistem logistik ekspor-impor dari Timur Tengah ke selatan dan utara akan terganggu.”
Persediaan bahan bakar nasional turut menjadi perhatian. Jusuf Kalla mengungkapkan bahwa stok minyak Indonesia rata-rata hanya bertahan sekitar tiga minggu. Setelah itu, meskipun masih ada kemungkinan pasokan dari Singapura, suplai utama dari negara seperti Arab Saudi, Iran, dan Kuwait berpotensi terputus.
“Persediaan bahan bakar kita rata-rata sekitar tiga minggu. Setelah itu mungkin masih ada pasokan dari Singapura, tetapi suplai dari Saudi, Iran, dan Kuwait kemungkinan besar terputus,” jelasnya.
Potensi Meluasnya Konflik
Jusuf Kalla memprediksi konflik tidak hanya terbatas pada Iran, tetapi berpotensi meluas ke negara-negara lain di kawasan yang memiliki hubungan strategis dengan Amerika Serikat. Negara seperti Kuwait, Qatar, dan Uni Emirat Arab dinilai bisa terdampak karena keberadaan pangkalan militer AS di wilayah tersebut.
“Selain itu, hubungan perdagangan kita dengan negara-negara Timur Tengah juga bisa terhenti. Bukan hanya Iran, tetapi konflik bisa meluas ke Kuwait, Doha, dan Dubai karena di sana terdapat pangkalan Amerika. Dampaknya akan terasa ke negara-negara tersebut,” ungkapnya.
Jika hal itu terjadi, alur perdagangan bilateral Indonesia dengan kawasan tersebut, termasuk ekspor komoditas dan impor barang strategis selain minyak, berisiko terhenti.
Dampak Bisa Terasa dalam Waktu Dekat
Meski dampak belum sepenuhnya dirasakan saat ini, Jusuf Kalla memperkirakan efek negatif konflik bisa mulai terlihat dalam hitungan hari.
“Hari ini mungkin belum terasa, tetapi dalam satu minggu ke depan dampaknya bisa mulai dirasakan,” tegasnya.
Peringatan ini muncul di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah. Sejumlah pengamat ekonomi menilai Indonesia perlu segera menyiapkan langkah mitigasi, seperti diversifikasi sumber impor minyak dan penguatan cadangan energi strategis, guna menghadapi potensi skenario terburuk.
Konflik tersebut tidak hanya mengancam stabilitas ekonomi global, tetapi juga menegaskan pentingnya diplomasi internasional untuk mencegah eskalasi lebih luas. Pemerintah Indonesia diharapkan segera mengambil langkah konkret guna melindungi kepentingan nasional di tengah ketidakpastian global.