Dunia panjat tebing Indonesia yang sedang di puncak prestasi tiba-tiba diguncang kabar kelam. Federasi Panjat Tebing Indonesia (FPTI) kini tengah berada di bawah sorotan tajam setelah munculnya dugaan kekerasan dan pelecehan seksual yang melibatkan figur besar di kursi kepelatihan.
Kasus ini bermula dari laporan delapan atlet nasional—terdiri dari lima putra dan tiga putri—yang mengeklaim telah menjadi korban perilaku tidak pantas oleh pelatih kepala mereka, Hendra Basir. Nama Hendra bukanlah sosok sembarangan; ia adalah arsitek di balik kesuksesan Veddriq Leonardo meraih medali emas di Olimpiade 2024.
Gerak Cepat Federasi: Tim Pencari Fakta Dibentuk
Menyikapi laporan serius tersebut, Ketua Umum FPTI Yenny Wahid langsung mengambil langkah tegas. Federasi resmi menonaktifkan Hendra Basir dari jabatannya guna mempermudah proses investigasi yang dijalankan oleh Tim Pencari Fakta (TPF).
“Saya berkomitmen untuk melindungi semua korban serta menegakkan prinsip zero tolerance terhadap tindakan pelecehan seksual maupun kekerasan fisik,” tegas Yenny Wahid dalam keterangan resminya, Jumat (27/2).
Pembelaan Hendra Basir: “Itu Fitnah”
Di sisi lain, Hendra Basir tidak tinggal diam. Dalam klarifikasinya pada Rabu (25/2), ia membantah keras tuduhan asusila yang dialamatkan kepadanya. Hendra mengaku terpukul dengan narasi yang berkembang di publik.
“Tindakan ini di-framing-nya seakan-akan ada ajakan hal-hal aneh atau mesum. Itu fitnah,” ujar Hendra.
Meski membantah pelecehan, Hendra mengakui dirinya memang menerapkan metode latihan yang keras. Ia juga membenarkan pernah memeluk atlet putri, namun mengeklaim tindakan itu bersifat situasional untuk memberikan penguatan mental saat atlet merasa kecewa atau menangis setelah performa yang buruk. “Saya peluk dan cium kening serta ubun-ubun. Itu semata-mata untuk penguatan,” tambahnya.
Pantauan Menpora dan DPR RI
Kasus ini kini telah naik ke level nasional. Menpora Erick Thohir bersama Komisi X DPR RI memberikan perhatian penuh dan mendesak agar pengusutan dilakukan secara tuntas tanpa ada yang ditutup-tutupi. Mereka menuntut sanksi maksimal jika dugaan tersebut terbukti benar demi menjaga integritas olahraga nasional.
Hingga Minggu (1/3), publik masih menanti hasil investigasi dari Tim Pencari Fakta FPTI. Apakah ini murni kesalahpahaman metode kepelatihan, ataukah sebuah pelanggaran etik berat yang mencederai dunia olahraga kita?