NEW YORK, AS – Mantan Wakil Presiden Amerika Serikat, Kamala Harris, dengan tegas mengkritik serangan militer gabungan AS–Israel terhadap Iran yang disebutnya sebagai “perang perubahan rezim” yang tidak diinginkan rakyat Amerika. Harris menuding Presiden Donald Trump telah menyeret Amerika Serikat ke dalam konflik berbahaya tanpa persetujuan Kongres, sehingga membahayakan nyawa prajurit AS.
Dalam pernyataan yang diunggah di akun X resminya, seperti dikutip berbagai media termasuk The Hill pada Minggu (1/3/2026), Harris menyatakan:
“Izinkan saya memperjelas. Saya menentang perang perubahan rezim di Iran, dan pasukan kita ditempatkan dalam bahaya demi perang pilihan Trump.”
Ia menilai operasi militer tersebut sebagai langkah berisiko tinggi dan tidak perlu, sekaligus menyoroti kontradiksi pernyataan Trump selama kampanye Pilpres 2024. Harris menekankan bahwa Trump pernah berjanji mengakhiri perang, bukan memulainya.
“Kemudian tahun lalu, dia berkata, ‘Kita telah menghancurkan’ program nuklir Iran. Itu juga bohong,” ujar politikus Partai Demokrat itu.
Harris menambahkan bahwa dirinya bersama suaminya, Doug Emhoff, berdoa bagi para prajurit AS yang gagah berani. Ia menegaskan bahwa mereka pantas dipimpin oleh seorang Panglima Tertinggi yang mengambil keputusan dengan hati-hati dan disiplin.
Ia mengecam serangan tersebut sebagai “tidak bijaksana, tidak dapat dibenarkan, dan tidak didukung oleh rakyat Amerika”. Harris juga menyoroti absennya persetujuan Kongres sebelum aksi militer dilancarkan.
“Tidak ada keraguan dalam penentangan kami terhadap perang pilihan Donald Trump, dan Kongres harus menggunakan semua kekuatan yang tersedia untuk mencegahnya lebih jauh melibatkan kita dalam konflik ini,” tegasnya.
Pernyataan Harris muncul di tengah eskalasi konflik yang dimulai pada Sabtu (28/2/2026), ketika AS dan Israel melancarkan operasi militer besar-besaran ke wilayah Iran.
Serangan menyasar fasilitas komando Korps Garda Revolusi Islam (IRGC), situs peluncuran rudal balistik dan drone, bandara militer, serta sistem pertahanan udara.
Menurut laporan Bulan Sabit Merah Iran, serangan gabungan itu menewaskan lebih dari 200 orang dan melukai hampir 750 lainnya, melanda 24 dari 31 provinsi di Iran.
Komando Pusat AS (Centcom) sedang menyelidiki klaim Iran bahwa salah satu serangan menghantam sebuah sekolah perempuan di wilayah selatan, yang menurut otoritas setempat menewaskan lebih dari 100 siswi.
Pasukan Pertahanan Israel (IDF) melaporkan melibatkan lebih dari 200 jet tempur dalam salah satu operasi udara terbesar dalam sejarah mereka, menargetkan ratusan lokasi termasuk peluncur rudal dan sistem pertahanan udara di bagian barat dan tengah Iran. IDF mengklaim telah menghantam lebih dari 500 target.
Di antara korban tewas dilaporkan sejumlah petinggi Iran, termasuk Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei, yang kematiannya dikonfirmasi media negara Iran dan diumumkan oleh Presiden Trump.
Konflik ini memicu kekhawatiran global atas potensi eskalasi lebih lanjut di Timur Tengah. Harris pun mendesak Kongres untuk bertindak guna membatasi keterlibatan Amerika Serikat lebih dalam dalam konflik tersebut.