Kemilau etalase kaca Apple Store di Uni Emirat Arab (UEA) mendadak redup. Raksasa teknologi asal California ini resmi menutup kelima lokasi ritel ikonik dan kantor korporatnya di UEA sejak Sabtu (28/2/2026), seiring terseretnya wilayah Teluk ke dalam pusaran konflik militer terbuka antara poros AS-Israel melawan Iran.
Keputusan menutup gerai prestisius seperti Apple Dubai Mall dan Apple Al Maryah Island diambil mengikuti instruksi darurat dari pemerintah UEA. Perusahaan-perusahaan sektor swasta didesak untuk segera menerapkan sistem kerja jarak jauh guna menghindari paparan risiko di area terbuka bagi para pekerjanya.
Langit Dubai yang Tak Lagi Tenang
Penutupan ini terjadi di tengah suasana mencekam. Serangan balasan Iran menggunakan ratusan drone dan rudal dilaporkan menyasar berbagai pangkalan militer AS di seluruh Teluk. Di Dubai, warga menyaksikan pemandangan mengerikan: kepulan asap tebal di dekat landmark utama kota, serta rekaman amatir yang memperlihatkan drone menghantam kawasan urban.
Tragedi nyata pun mulai memakan korban jiwa, di mana seorang warga negara Pakistan dilaporkan tewas akibat serpihan peluru di Abu Dhabi. Di saat yang sama, Bandara Internasional Dubai—nadi transportasi dunia—mengalami kerusakan fasilitas dan harus mengevakuasi ribuan penumpang pascaserangan semalam.
Eksodus Ritel Mewah di Dubai Mall
Apple bukanlah satu-satunya yang “tiarap”. Di Dubai Mall, pusat belanja terbesar dunia, deretan jenama mewah seperti Maison Margiela, Christian Louboutin, hingga Givenchy juga menggembok gerai mereka. Seluruh atraksi wisata utama, mulai dari Global Village hingga bianglala raksasa Ain Dubai, menghentikan operasional secara total.
Ancaman Denda bagi Penyebar Hoaks
Pemerintah UEA kini memberlakukan aturan ketat guna menjaga ketenangan publik. Otoritas memperingatkan bahwa penyebaran informasi yang tidak terverifikasi atau hoaks di media sosial dapat berujung pada denda fantastis sebesar 200.000 dirham (sekitar Rp860 juta).
Hingga saat ini, status pembukaan kembali gerai-gerai Apple di UEA masih bersifat tentatif dan penuh ketidakpastian. Segalanya bergantung pada volatilitas situasi keamanan setelah operasi gabungan AS-Israel menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran, yang kini memicu gelombang serangan balasan tanpa henti di seluruh kawasan.