JAKARTA – Surplus neraca dagang Januari 2026 sebesar 0,95 miliar dolar AS dinilai Bank Indonesia (BI) menjadi fondasi penting dalam menjaga ketahanan eksternal ekonomi nasional di tengah dinamika global.
Surplus neraca dagang Januari 2026 tersebut memperpanjang tren positif setelah pada Desember 2025 Indonesia mencatatkan surplus lebih tinggi sebesar 2,51 miliar dolar AS, menandakan kesinambungan kinerja sektor eksternal.
Bank Indonesia menegaskan surplus neraca dagang yang berlanjut di awal 2026 memperkuat stabilitas sektor eksternal sekaligus memberi ruang lebih luas bagi perekonomian nasional untuk tumbuh berkelanjutan.
Data resmi yang dirilis Badan Pusat Statistik pada Senin (2/3) menunjukkan neraca perdagangan Indonesia masih berada di zona positif meski nilai surplus menyusut dibanding bulan sebelumnya.
Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI Ramdan Denny Prakoso menyampaikan komitmen bank sentral dalam menjaga momentum positif tersebut.
“Ke depan, Bank Indonesia terus memperkuat sinergi kebijakan dengan Pemerintah dan otoritas lain guna makin memperkuat ketahanan eksternal dan mendukung pertumbuhan ekonomi nasional yang berkelanjutan,” kata Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI Ramdan Denny Prakoso dalam keterangan yang diterima di Jakarta, Selasa (3/3/2026).
Nonmigas Jadi Motor Surplus Neraca Dagang
Surplus neraca dagang Januari 2026 terutama ditopang oleh kinerja neraca perdagangan nonmigas yang tetap solid di tengah tekanan eksternal.
Pada Januari 2026, neraca perdagangan nonmigas mencatat surplus 3,23 miliar dolar AS, didorong ekspor nonmigas yang tetap kuat sebesar 21,26 miliar dolar AS.
Komoditas berbasis sumber daya alam seperti lemak dan minyak hewani maupun nabati menjadi kontributor utama, disusul produk manufaktur bernilai tambah seperti nikel dan turunannya, kendaraan dan komponennya, mesin dan peralatan mekanis, hingga alas kaki.
Secara geografis, ekspor nonmigas ke Tiongkok, Amerika Serikat, dan India masih menjadi penopang utama kinerja ekspor Indonesia pada awal tahun.
Defisit Migas Tekan Surplus Total
Di sisi lain, neraca perdagangan migas pada Januari 2026 tercatat defisit sebesar 2,27 miliar dolar AS.
Defisit tersebut terjadi seiring penurunan ekspor migas di tengah tren penurunan impor migas, sehingga mengurangi besaran surplus keseluruhan neraca perdagangan.
Meski demikian, kombinasi surplus nonmigas yang solid dan pengelolaan impor yang terkendali membuat posisi eksternal Indonesia dinilai tetap berada dalam kondisi aman.
Ketahanan Eksternal dan Prospek Ekonomi 2026
Surplus neraca dagang yang konsisten menjadi salah satu indikator penting dalam menjaga stabilitas nilai tukar, memperkuat cadangan devisa, serta meningkatkan kepercayaan pelaku pasar terhadap ekonomi Indonesia.
Bank Indonesia menilai koordinasi kebijakan fiskal dan moneter bersama pemerintah menjadi kunci menjaga momentum surplus perdagangan di tengah potensi perlambatan global.
Dengan fondasi ekspor nonmigas yang kuat dan diversifikasi pasar tujuan ekspor, prospek ketahanan eksternal Indonesia pada 2026 diperkirakan tetap resilien.***