Upaya membawa pulang “emas hitam” Indonesia dari kawasan Teluk Arab tengah menghadapi jalan buntu. Menteri Luar Negeri Sugiono melaporkan bahwa negosiasi untuk membebaskan dua kapal tanker milik Pertamina agar bisa melintasi Selat Hormuz semakin kompleks akibat dinamika geopolitik yang tak menentu antara Amerika Serikat dan Iran.
Dua kapal yang menjadi sorotan adalah VLCC Pertamina Pride, yang mengangkut 1,8 juta barel minyak mentah untuk konsumsi nasional, dan Gamsunoro. Hingga Rabu (22/4/2026), keduanya masih tertahan dan belum mendapatkan lampu hijau untuk melintas.
Politik Internal Iran Jadi Kerikil Tajam
Sugiono menjelaskan bahwa salah satu hambatan terbesar bukan hanya soal kebijakan luar negeri, melainkan kendala internal di pemerintahan Iran sendiri.
“Kadang-kadang kebijakan dari atas tidak serta merta bisa langsung diimplementasikan di lapangan. Ada perkembangan baru terkait syarat-syarat blokade yang masih harus terus kami negosiasikan,” ujar Sugiono di Gedung Bina Graha, Jakarta Pusat.
Saat ini, tim dari Pertamina bersama Kedutaan Besar RI di Teheran sedang melakukan lobi-lobi intensif untuk mencari celah agar kapal-kapal tersebut bisa segera berlayar menuju tanah air.
Dunia maritim sempat bernapas lega saat Menlu Iran, Abbas Araghchi, mengumumkan pembukaan Selat Hormuz pada Jumat (17/4). Bahkan, data Kpler mencatat ada sekitar 20 kapal yang berhasil lolos pada hari berikutnya.
Namun, keberuntungan belum berpihak pada Indonesia. Saat Pertamina Pride dan Gamsunoro bersiap mengambil posisi, ketegangan kembali memuncak pada Minggu (19/4), yang memaksa jalur perdagangan paling vital di dunia itu ditutup kembali.
Pasokan BBM: Indonesia Masih Punya “Napas” Panjang
Meski situasi di Selat Hormuz mencekam, masyarakat diminta untuk tidak panik. Pemerintah melalui Menteri ESDM, Bahlil Lahadalia, menjamin bahwa stok BBM nasional masih sangat aman di atas batas minimum 20 hari pasokan.
Sebagai langkah antisipasi jangka panjang, pemerintah telah mengamankan pasokan minyak mentah dari Rusia hingga Desember 2026. Selain itu, kabar baik bagi kantong rakyat adalah pemerintah menjamin harga BBM bersubsidi tidak akan naik hingga akhir tahun 2026, meskipun biaya logistik global sedang terguncang.