WASHINGTON, AS – Pejabat militer AS mengakui kepada anggota Kongres bahwa sistem pertahanan udara mereka tidak mampu menembak jatuh seluruh drone serang satu arah Iran yang diluncurkan dalam gelombang balasan terhadap operasi militer Amerika.
Pengakuan tersebut disampaikan dalam sesi pengarahan tertutup di Capitol Hill pada Selasa (3/3/2026), menurut dua sumber yang mengetahui isi pertemuan. Para pejabat, yang dipimpin Ketua Kepala Staf Gabungan Jenderal Dan Caine, menjelaskan bahwa Iran telah mengerahkan ribuan drone Shahed berbiaya rendah. Militer AS mampu menghancurkan sebagian besar, tetapi tidak semuanya.
“Kami memiliki cukup amunisi presisi untuk tugas yang ada saat ini, baik untuk serangan maupun pertahanan,” kata Caine dalam konferensi pers di Pentagon pada Rabu (4/3/2026), tanpa merinci jumlah stok secara spesifik.
Strategi Iran memanfaatkan drone Shahed yang terbang rendah dan lambat membuatnya sulit dideteksi serta diintersep oleh sistem pertahanan konvensional, dibandingkan rudal balistik. Hal ini memaksa AS mengalihkan fokus utama ke penghancuran situs peluncuran drone dan rudal Iran secepat mungkin guna mengurangi volume serangan.
Seorang pejabat senior pemerintahan menilai pendekatan Iran untuk memaksa AS menghabiskan sistem pencegat mahal seperti Patriot dan THAAD justru keliru. AS berhasil menangkis banyak drone dengan berbagai metode pertahanan yang lebih beragam dan efisien.
Namun, beberapa anggota Kongres dari Partai Demokrat menyuarakan kekhawatiran atas penurunan stok rudal pencegat akibat serangan rudal balistik Iran sebelumnya. Jenderal Caine mengakui isu tersebut dalam diskusi tertutup, meski secara publik ia menegaskan keyakinan terhadap kecukupan persediaan.
Senator Mark Kelly (D) menyebut situasi ini sebagai “masalah matematika”: Iran memiliki stok drone murah dan mudah diproduksi dalam jumlah besar, sementara rudal pencegat AS seperti Patriot berharga mahal dan terbatas. Serangan simultan ribuan drone berpotensi membanjiri sistem pertahanan, sehingga beberapa lolos dan mencapai target.
Biaya operasi militer juga menjadi sorotan. Pada hari-hari awal konflik, pengeluaran AS mencapai sekitar USD 2 miliar per hari, tetapi kini turun menjadi sekitar USD 1 miliar per hari dan diproyeksikan terus menurun seiring perkembangan operasi.
Presiden Donald Trump, melalui unggahan di media sosial pada Senin (2/3) malam, menyatakan AS mampu mempertahankan tingkat penggunaan senjata saat ini tanpa batas waktu. Ia menyebut persediaan amunisi kategori “menengah dan menengah atas” hampir tidak terbatas, meski mengakui stok kategori “paling canggih” belum optimal.
Sekretaris Pers Gedung Putih Karoline Leavitt, dalam konferensi pers Rabu, menegaskan persediaan senjata AS lebih dari cukup untuk perang berkepanjangan melawan Iran. Ia menambahkan bahwa pernyataan Trump merupakan kritik terhadap pemerintahan sebelumnya.
“Kami memiliki persediaan senjata di tempat-tempat yang bahkan tidak diketahui banyak orang di dunia ini,” kata Leavitt.
“Presiden hanya menunjukkan bahwa, sayangnya, selama empat tahun kami memiliki pemimpin yang sangat bodoh dan tidak kompeten di Gedung Putih yang memberikan banyak senjata terbaik kami secara cuma-cuma.”
Sementara itu, juru bicara Gedung Putih dan juru bicara Kepala Staf Gabungan menolak berkomentar lebih lanjut dengan alasan keamanan operasional. Konflik ini merupakan respons Iran terhadap serangan AS sebelumnya, dengan drone Shahed menjadi senjata utama dalam serangan balasan yang menargetkan aset militer AS di kawasan.